This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Opini Arema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Arema. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2016

Terkini 9 Alasan Mengapa Susah Move On Tinggalkan Kota Malang

 bagi sebagian orang yang belum mengenal Kota ini niscaya beranggapan bahwa ini Kota yang di Terkini 9 Alasan Mengapa Susah Move On Tinggalkan Kota Malang

Mendengar kata Malang, bagi sebagian orang yang belum mengenal Kota ini niscaya beranggapan bahwa ini Kota yang masbodoh dan sulit alur perjalanannya. Karena memang secara geografis letak Kota yang terkenal dengan klub sepakbolanya berjulukan Arema Indonesia FC ini, terletak di tengah-tengah pegunungan.

Alhasil, kalau kita ingin menjangkaunya dengan kendaraan umum maka kita harus sabar untuk berganti kendaraan lagi untuk sanggup menjangkau Kota ini. Namun demikian, Kota Malang mulai banyak diminati para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan di sana.

Selain sebab memang banyak pilihan sekolah bergengsi dan PTN maupun Swasta yang bagus, ternyata ada banyak alasan kenapa Kota Malang sangat diminati oleh para Perantau.

Berikut inilah 9 alasan kenapa banyak perantau di Kota Malang tak ingin pulang kembali ke kampung halamannya.

1. Suasana Sejuk
Apabila ada yang beranggapan mengenai bahwa hidup di Kota Malang itu dingin, nyatanya kini Kota Malang sudah mulai sejuk dan udara yang segar dengan pemandangannya yang asri. Nah, apalagi ketika udara di siang hari tidak terlalu panas, dan di malam hari juga tidak terlalu dingin.

Mungkin pada ketika pertama kali tiba ke sana, bagi kau yang berasal dari tempat yang mempunyai suhu lebih panas akan beranggapan bahwa Kota Malang itu dingin. Namun lama-lama justru suasana hujan dan sejuk udaranya akan membuatmu betah berlama-lama di Kota ini.

2. Penduduknya Ramah dan Terbuka
Buat kau yang berasal dari wilayah atau tempat yang rata-rata berbahasa halus agak kaget ketika berada di tengah penduduk Malang. Karena, mereka gaya bahasa dengan lugas dan apa adanya dan terkesan bergairah ibarat membentak. Namun tahu tidak, mereka justru sangat ramah dan terbuka lho kepada para pendatang yang main ke sana.

Mereka lebih suka mengkritik secara eksklusif tanpa menyembunyikan di belakang orang yang bersangkutan. Nah itulah, hidup bersama penduduk Malang sering sekali mengajarkan perihal portivitas sebab mereka sangat menjunjung yang namanya kejujuran dan kedamaian.

Kaprikornus jangan eksklusif menilai dari sisi luar cara berbicara mereka ya? Kenali lebih akrab dan kau akan nyaman berada di tengah-tengah mereka.

3. Teringat Nostalgia Paling Indah
Di sanalah kita sanggup teringat nostalgia dengan siapapun yang ada dalam ingatan kita, merangkai dongeng demi dongeng masa kecil dengan sempurna. Suatu masa ketika kita untuk pertama kalinya menangis lalu, kemudian untuk pertama kalinya sanggup berjalan.

Suatu masa ketika kita duduk kasus terbesar yang kita hadapi hanyalah soal matematika yang diberikan guru secara mendadak. Ya, masa yang begitu dirindu, masa kecil itu. Banyak perantau yang tak ingin pulang. Karena, akan menghadirkan kenangan yang tak terlupakan di dalam hidupnya.

4. Taraf Hidup yang Ramah di Kantong
Bagi anak muda, yang gaya hidupnya mulai tingkat sederhana hingga mewah, di Malang sanggup ditemukan. Karena memang taraf hidup di Malang sangat ramah dengan kantong para anak muda tersebut.

Makanan dengan harga Rp. 3000 per porsi pun ada lho guys! Bahkan kalau ingin memasak sendiri, belanjanya juga lebih murah di sana.

Kalau sesekali ingin makan di tempat bergengsi, harganya juga tetap ramah kok! Itulah yang menciptakan betah bagi anak muda, pelajar dan mahasiswa hidup di sana.

5. Kendaraan Umum Praktis Dijangkau
Kendaraan umum di Malang memilik nama terkenal dari angkot berwarna biru itu yaitu Len. Ada majemuk len sesuai dengan kawasan masing-masing yang ingin dituju.

Nah, bahkan pernah ketika ada beberapa jalan Malang dibentuk satu arah untuk mengurai kemacetan, arus len tetap tidak diganggu hingga dibuatkan alur jalan khusus. Hihihi..

Begitu dengan banyaknya len ini, para perantau yang tidak membawa kendaraan pribadi sangat tertolong dengan adanya kendaraan umum di sini. Selain itu tarifnya jauh akrab sama, setiap tempat juga hampir dipastikan sanggup dijangkau oleh len ini.

6. Kemacetan Membuat Pengguna Jalan Lebih Waspada
Di Malang kau akan menemukan berkendaraan yang nyaman ketika di jalan, walau memang sedikit macet mengingat semakin banyaknya penduduk namun belum ada alternatif pelebaran ruas jalan.

Kok bisa?

Karena pengendara motor di sana itu banyak patuhnya, walaupun tidak diawasi oleh polisi. Saat akrab penyeberangan mereka selalu hati-hati, dan rata-rata tidak ngebut ketika di jalan ramai serta selalu taat dengan peraturan kemudian lintas di sana.

Hmm, pada dasarnya kalau kau berkendara di Malang rasanya lebih nyaman, kondusif dan tenang.

7. Beraneka Macam Kuliner
Bosan dengan sajian masakan yang itu-itu saja? Wajarlah bagi anak muda apalagi para perantau.

Nah, di Malang kau tak perlu bingung, sebab di sana ada banyak sekali macam masakan yang akan selalu siap mengundang selera makanmu enak dan enak guys.

Sehingga tak ada lagi alasan sehari tidak makan sebab tidak menemukan variasi masakan yang disukai. Mengenai dengan harga yang sesuai kantong mahasiswa, ada banyak sekali macam lalapan mulai dari ayam, telur, martabak, tempe, tahu, lele, hingga jamur goreng atau bakar.

Kemudian ada banyak sekali warung prasmanan yang siap menggantikan sajian makanannya setiap hari, kau sanggup pilih sendiri apa yang ingin kau makan.

Dan untuk harga yang sedikit berkelas, kau sanggup mencoba sensasi macam-macam nasi goreng, mie, bakso bakar, sate, dan masih banyak masakan lain yang akan mengundang selera makanmu.

8. Tempat Wisata yang Spektakuler
Buat kau yang butuh hiburan atau rekreasi, kau tak perlu melancong ke luar Malang. Karena ternyata Malang yaitu surganya wisata alam.

Mulai majemuk riam yang selalu diawali dengan nama ‘Coban’ ada di sini, juga banyak sekali pantai indah sanggup kau temukan di Malang Selatan.

Untuk yang tak berminat wisata jauh-jauh, kau juga sanggup sekedar jalan-jalan di kawasan Alun-Alun atau Kawasan Ijen yang pemandangannya aduhai sekali.

Apalagi yang hobi fotografi, kau sanggup ambil spot sebanyak mungkin untuk jepretanmu di Malang ini.

9. Yakin, Ingin Meninggalkan Kenangan Kamu di Kota Malang ?
Guys, ini yang terakhir. Saat menjelang harus pergi dari Malang, kau niscaya merasa sayang sekali. Selain dikarenakan telah merasa nyaman di Malang ibarat tinggal di Kota sendiri, kau juga telah mengukir banyak kenangan dengan orang-orang tercinta, sahabat, teman, dan bahkan pasangan hidup halalmu.

Ada banyak perantau yang meninggalkan Malang pada karenanya kembali lagi ke Kota ini. Saat ditanya alasannya kenapa, jawabannya sederhana sekali, “hidup di Malang itu enak sekali”.

Kaprikornus apakah kau masih tak ingin untuk berencana merantau di Malang ? Atau takut sebab tidak sanggup move on darinya ? Hihihi..

(sumber: www.gulalives.com)



Sabtu, 14 Juni 2014

Terkini Marketing Dunia Sepak Bola


Di pagelaran Piala Dunia, uang mengalir sangat deras. Bayangkan, sebagai gambaran, pada 2010 sekitar 700 juta orang menonton simpulan antara Belanda melawan Spanyol. Di Brasil, pagelaran Piala Dunia diperkirakan akan ditonton 3,6 miliar penduduk di 192 negara. Para manajer periklanan akan melihat ini sebagai ajang untuk memperlihatkan produk mereka.

Para produsen alat-alat olahraga bersaing untuk memperluas pangsa pasar. Bola yang dipakai di Brasil dibentuk oleh Adidas. Perusahaan Jerman itu juga memasok produk terkait olahraga ini untuk sembilan tim menyerupai Jerman, Argentina dan Spanyol. Adidas pun memasok keperluan untuk wasit, anak gawang dan para sukarelawan. Perusahaan Jerman lain, menyerupai Puma melaksanakan kontrak dengan delapan tim. Sedangkan Nike menjadi pemasok alat-alat olahraga bagi tim yang berlaga di sana, menyerupai Brasil, Inggris, Belanda adan Amerika.

Para bintang bola menjadi rebutan perusahaan produk olahraga. Pemain Portugal Cristiano Ronaldo menjadi bintang iklan Nike sedangkan Lionel Messi membintangi produk Adidas.

 juta orang menonton simpulan antara Belanda melawan Spanyol Terkini Marketing Dunia Sepak Bola

Ada yang menarik bahwa sebagian besar iklan kini cenderung melalui media iklan di internet. Media sosial menjadi pertarungan iklan, menyerupai Facebook, Twitter, YouTube dan Instagram. Penggunaan iklan di internet dipastikan akan makin berkembang di masa mendatang.

Video iklan Nike berlabel “Winner Stays” ditonton 80 juta orang. Sedangkan iklan Adidas berjudul “Messi’s Dream” diklik sampai 31 juta orang, menyerupai dilaporkan media "Wirtschaftswoche". Iklan Nike disebarluaskan (di-share) lebih 1,3 juta melalui media umum sedangkan Adidas 300 ribu kali.

Bola produksi Adidas berjulukan Brazuca merupakan simbol emosi pujian dan nama baik untuk semua umat manusia. Nama Brazuca ini yakni hasil voting online seluruh dunia.

Bagaimana sepak bola menjadi ajang promosi tak hanya dilakukan perusahaan peralatan olahraga. Berbagai perusahaan Indonesia juga memakai sepakbola sebagai ajang reklame. Garuda Indonesia menjadi sponsor klub sepakbola terkenal, Liverpool. Mulai Juni 2014, logo Garuda akan terpampang di jersey latihan The Reds.

Selain menjadi sponsor resmi untuk pelatihan kit Liverpool, durasi tayang brand/logo Garuda pada LED di sisi lapangan Anfield juga diperpanjang. Brand/logo tersebut akan ditayangkan pada setiap sabung yang dilaksanakan Liverpool sepanjang isu terkini 2014/2015 sampai 2015/2016.

 juta orang menonton simpulan antara Belanda melawan Spanyol Terkini Marketing Dunia Sepak Bola

BNI menjadi sponsor perbankan pertama yang dimiliki Chelsea FC di Asia. Dengan kerjasama ini, logo Chelsea akan tercetak di kartu kredit/debit BNI. Meskipun tidak ikut tampil di pinggir Stamford Bridge, logo BNI dan bahasa Indonesia akan tersedia di situs resmi Chelsea FC.

Kacang Dua Kelinci mensponsori klub Eropa juara Champions tahun ini yaitu Real Madrid. Kacang Dua Kelinci telah mendatangkan banyak sekali pemain jago Real Madrid termasuk bintang termahal asal Wales, Gareth Bale bulan lalu.

Bank Danamon menjadi sponsor klub utama Liga Premier Inggris, Manchester United yang mempunyai 30 juta penggemar di Indonesia. Danamon diberi ruang iklan produk Danamon pada Light Emitting Diode (LED) di sisi lapangan stadion Olf Trafford.

Demikian juga dengan Pertamina menjadi sponsor klub sepak bola AC Milan yang memang mempunyai pendukung fanatik sangat banyak di Indonesia. Di sejumlah kota besar di Indonesia, terdapat cabang Milanisti.

Indonesia sudah pernah mencoba mengkampanyekan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia. Sebagai negara nomor 10 terbesar versi IMF, Indonesia pantas menjadi tuan rumah. Hanya saja memang tidak murah.

Sebagai gambaran, Brasil mengeluarkan US$11 miliar untuk membangun stadion dan infrastruktur. Tapi Brasil sendiri akan menerima pendapatan US$3 miliar selain imbas konkret lain di bidang ekonomi menyerupai peresapan tenaga kerja dan perbaikan infrastruktur. Tapi kita tak boleh mengubur harapan itu, alasannya tuan rumah Piala Dunia sanggup menjadi kebanggan bangsa.

(Rihad Wiranto)

Minggu, 04 Mei 2014

Terkini Lima Kunci Sukses Arema Di Awal Demam Isu 2014


Musim 2014 ini Arema Indonesia tampil begitu cemerlang dalam mengarungi kompetisi yang diikuti, baik di Indonesia Super League (ISL) maupun Piala AFC 2014. Di kancah lokal, Ahmad Bustomi dan kawan-kawan sementara ini sukses memuncaki wilayah barat. Tak kalah cemerlang, di kompetisi kasta kedua klub-klub Asia, Arema juga menyabet satu tiket ke babak 16 besar.

Dua sukses itu tak lepas dari beberapa faktor yang ketika ini sedang menaungi tim Singo Edan. Bukan hanya dari segi teknik tapi juga non teknik. Berikut lima faktor sukses Arema di awal animo ini yang berhasil dirangkum Goal Indonesia :

 ini Arema Indonesia tampil begitu cemerlang dalam mengarungi kompetisi yang diikuti Terkini Lima Kunci Sukses Arema Di Awal Musim 2014

SKUAD KOMPLIT BERTABUR BINTANG
Skuad yang dimiliki Arema pada animo ini boleh dibilang sebagai salah satu yang paling glamor di Indonesia. Deretan bintang lokal berlabel penggawa tim nasional Indonesia, senantiasa menghiasi starting line up Arema kala berlaga. Sebut saja Kurnia Meiga, Victor Iqbonefo, Ahmad Bustomi, serta Cristian Gonzales sekarang menjadi serpihan rencana instruktur Alfred Riedl untuk tim Garuda. Ada pula Benny Wahyudi, I Gede Sukadana, Juan Revi, Samsul Arif, serta rising star Irsyad Maulana, yang juga beberapa kali mendapat panggilan timnas.

Deretan bintang lokal tersebut terasa semakin lengkap bila kita menengok barisan pemain aneh yang memperkuat Singo Edan. Mulai dari Thierry Gathuessi yang menjadi duet ideal bagi Victor Iqbonefo di lini belakang, Gustavo Lopez yang menjadi kreator serangan di lini tengah, sampai Alberto Goncalves sang juru gedor yang selalu meneror gawang lawan.

Tak ada perbedaan yang mencolok antara pemain inti dengan cadangan. Itulah yang menjadi berkah tersendiri bagi Suharno dalam meracik tim. Pantas saja, Suharno tak pernah pusing bila ada salah satu pemain pada dasarnya yang sedang menderita cedera. Pun demikian ketika Arema harus dihadapi dengan jadwal padat di dua kompetisi. Suharno tak perlu takut untuk melaksanakan rotasi di setiap laga.

DUKUNGAN SUPORTER YANG SUPER FANATIK
"Dimana Kau Berlaga Kami Selalu Ada, Karena Kami Aremania” begitulah salah satu bait lagu yang kerap dinyanyikan oleh Aremania dari tribun kala mendukung tim mereka bertanding. Tak sekadar bernyanyi, Aremania benar-benar menandakan kesetiaan mereka terhadap tim berlogo kepala singa tersebut.

Ya, Aremania tak segan untuk mendukung tim mereka di sangkar lawan. Bahkan, proteksi Aremania telah menembus batas negara. Tercatat, pada animo ini Aremania setia mendampingi Arema kala tandang ke markas Maziya, Hanoi T&T, dan Selangor FA dalam berkelahi Piala AFC 2014.

Soal proteksi di berkelahi kandang, tak perlu diragukan lagi. Stadion Kanjuruhan selalu penuh dengan lautan insan dengan atribut birunya setiap Ahmad Bustomi dan kawan-kawan berlaga. Faktor suporter inilah yang menjadi motivasi penting bagi pemain Arema kala merumput. "Kami tidak ingin Aremania kecewa, mereka tiba dari jauh untuk mendukung Arema. Kami harus berikan kemenangan” ujar Victor Iqbonefo.

FINANSIAL SEHAT
Bicara soal suporter, tentunya ada pemasukan yang bakal didapatkan Arema dari penjualan tiket berkelahi kandang. Seperti musim-musim sebelumnya, penjualan tiket masih menjadi pilar utama yang menopang keuangan Arema dalam mengarungi kompetisi.

Untuk urusan pemasukan dari tiket pertandingan di Indonesia, sanggup dibilang Arema ialah juaranya untuk level ISL. Haram hukumnya bagi Aremania bila masuk ke stadion tanpa memakai tiket. Dalam dua animo terakhir, Arema juga mendapat banyak sponsor. Hal tersebut sanggup dilihat dari jubah tempur yang mereka pakai dihiasi banyak tempelan logo sponsor. Untuk urusan ini, Arema mungkin hanya kalah dari Persib Bandung yang juga punya sederet sponsor.

Praktis, situasi itu menciptakan kondisi keuangan Arema stabil. Jangan lupa juga, sokongan dana yang dikucurkan pengusaha Nirwan Dermawan Bakrie, yang semakin mempertebal kantong finansial juara ISL 2009/10 ini.

Dengan kondisi menyerupai itu, nyaris tidak pernah terdengar keluhan pemain wacana telatnya pembayaran honor atau duduk kasus finansial lainnya. Dampaknya, pemain hanya fokus pada kewajiban mereka untuk bertarung di lapangan alasannya ialah hak-hak mereka sebagai pemain selalu terpenuhi.

 ini Arema Indonesia tampil begitu cemerlang dalam mengarungi kompetisi yang diikuti Terkini Lima Kunci Sukses Arema Di Awal Musim 2014

KEKOMPAKAN TIM PELATIH DAN MANAJEMEN
Selain pemain, kesolidan Arema pada animo ini juga sanggup dilihat dari kekompakkan yang terjalin antara tim instruktur dan jajaran manajemen. Program-program yang dibentuk oleh duet instruktur Suharno-Joko Susilo untuk para pemain selalu mendapat proteksi dari tim manajemen.

Dukungan penuh dari jajaran manejemen terlihat terperinci dari kehadiran Iwan Budianto di setiap pertandingan Arema. CEO Arema tersebut bahkan kerap menunjukkan motivasi bagi para pemain sebelum maupun sesudah pertandingan. Situasi ini semakin menciptakan suasana tim lebih kondusif.

KEBIJAKAN TRANSFER YANG TEPAT
Kebijakan transfer pemain yang diambil administrasi Arema pada animo ini sejauh ini sanggup dibilang sangat tepat. Mayoritas pemain yang membela tim pada animo kemudian masih dipertahankan. Mereka pun memulangkan kembali beberapa pemain yang sempat berkelana ke klub lain menyerupai Ahmad Bustomi, Arif Suyono, dan Juan Revi Auriqto.

Selain itu, beberapa penyempurnaan dilakukan dengan mendatangkan Samsul Arif dan Gustavo Lopez. Terbukti, keduanya ketika ini menjadi salah satu pilar penting Singo Edan. Samsul sanggup menggantikan tugas Greg Nwokolo yang dilepas ke Persebaya Surabaya. Sementara Gustavo menjadi kreator serangan bagi Arema.

Selasa, 08 April 2014

Terkini Nirwan Bakrie, Aremania Dan Pilpres

Sejak muncul gagasan membentuk klub Arema Malang di masa 80-an, Nirwan Bakrie ialah sosok yang sangat bersahabat di indera pendengaran Aremania. Tercatat dalam sejarah klub, Nirwan ialah sosok yang membantu mimpi mendiang Acub Zaenal dan putranya Lucky Adrianda Zaenal mendirikan tim sepakbola.

Tanpa campur tangan pengusaha itu, mungkin Arema yang kini berubah nama menjadi Arema Cronus tak akan pernah ada. Seiring perjalanan waktu, Nirwan Bakrie hanyalah sosok yang tercatat dalam buku sejarah Arema saja, tanpa pernah muncul eksklusif di Malang.

Sejak muncul gagasan membentuk klub Arema Malang di masa  Terkini Nirwan Bakrie, Aremania dan Pilpres

Selama eksistensi Arema pula, pula sosok Nirwan Dermawan Bakrie masih misterius. Namun, sosok yang kini memegang 100 persen saham Singo Edan tersebut balasannya menampakkan dirinya di Malang. Penampakan yang kemudian memunculkan bermacam-macam spekulasi alias isu.

Nirwan tiba membawa buah tangan bagus bagi Aremania, yakni rencana pembangunan stadion serta mimpi mengakibatkan Arema tim yang lebih bergengsi. Rencana yang menciptakan Aremania mabuk kepayang, apalagi diucapkan eksklusif dari bibir seorang Nirwan Bakrie.

Terlepas dari relasi big boss dengan klub sepak bola miliknya, segudang pertanyaan juga muncul dari kehadiran Nirwan di Malang. Seorang rekan Aremania merasa kurang nyaman alasannya ialah kedatangan tersebut dirasakannya bernuansa politis, terutama dikaitkan dengan sejumlah fakta.

Kebetulan kedatangan Nirwan bertepatan dengan kampanye sebuah partai politik di Malang. Bukan belakang layar lagi, Aburizal Bakrie yang notabene abang kandung Nirwan, menjadi calon presiden dari partai tersebut. Rekan saya tadi kemudian bertanya, "Setelah sekian tahun, kenapa munculnya sekarang...?"

Pertanyaan itu semakin besar alasannya ialah seorang big boss mengunjungi klubnya bukan ketika pertandingan besar. Nirwan tiba eksklusif ke stadion dan 'hanya' disuguhi pertandingan ujicoba berformat trofeo yang melibatkan Arema Cronus, Persikoba Batu serta Persekam Metro FC.

Mungkin alasannya ialah Nirwan gres mempunyai waktu luang di tengah kesibukannya sebagai pengusaha. Mungkin, berdasarkan saya semua berhak memberi evaluasi terkait eksistensi Nirwan serta kampanye partai politik berwarna kuning, selaras dengan warna kostum Arema di ujicoba trofeo tersebut.

Kalau pun kemudian ada jadwal tertentu yang publik tidak tahu, berdasarkan saya juga wajar-wajar saja. Keterlibatan seorang politisi di klub sepakbola bukan sesuatu yang terlarang. Silvio Berlusconi, pemilik AC Milan juga seorang politikus dan juga menjadi perdana menteri Italia.

Aremania terlihat susah payah menampik cibiran bahwa mereka bukan alat politik dan tidak akan pernah terlibat dalam urusan politik. Tak sedikit supporter rival yang menyindir keterlibatan partai di tim dengan kostum pujian biru. Kenapa situasi ini dijadikan materi cemoohan ?

Dalam pandangan saya, kondisi sepak bola Indonesia yang mengakibatkan situasi ini dianggap miring. Publik lebih banyak didominasi memandang urusan politik sangat kuat pada prestasi atau eksistensi sebuah klub di kompetisi. Ini rujukan pikir klasik dan berdasarkan saya sangat "bodoh". Bakrie yang pernah kuat di PSSI, dianggap bakal memberi laba bagi Arema, begitu sederhananya.

Politik juga dianggap sebagai momok yang mengacaukan sepak bola nasional. Sepak terjang politikus di organisasi sepakbola, banyak sekali manuver politis yang sering tak masuk akal, sikut-sikutan demi kepentingan Goalongan, sampai permusuhan pribadi, ialah warna-warni sepak bola Indonesia. Dari situ balasannya publik bola alergi dengan yang namanya politik di olah raga paling digemari masyarakat Indonesia.

Saya menyadari posisi Aremania sangat sulit. Mau tak mau mereka menghadapi cemoohan bahwa tim Singo Edan identik dengan salah satu partai politik. Padahal Nirwan Bakrie sangat berbeda dengan Aburizal Bakrie. Secara praktis, Nirwan tidak pernah larut eksklusif dalam politik ibarat yang dilakukan Ical. Tapi rupanya rival tidak mau tahu dengan itu. Bagi mereka Bakrie ya tetap Bakrie, apa pun nama depannya.

Dari ulasan di atas, saya menyimpulkan aroma politis di Singo Edan sepenuhnya tergantung Aremania sendiri. Mereka sendiri yang memilih terlibat atau tidaknya di politik praktis. Sejauh Arema tetap berjalan di rel profesionalisme sepak bola nasional, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Apa pun situasinya ketika ini, harus diakui Arema Cronus justru sangat beruntung mempunyai big boss Nirwan Bakrie. Sedikit sekali sosok yang mempunyai kesepakatan di dunia sepak bola ibarat beliau sampai membeli klub ibarat Brisbane Roar (Australia) dan CS Visse (Belgia). Semua tentu tak dapat membayangkan bagaimana nasib Arema jikalau awal ekspresi dominan kemudian tidak diakuisisi Bakrie. Mungkin tim yang berdiri pada 11 Agustus 1987 tersebut masih mengalami defisit finansial dan tidak menjadi tim yang kompetitif ibarat sekarang.

Sejak muncul gagasan membentuk klub Arema Malang di masa  Terkini Nirwan Bakrie, Aremania dan Pilpres

Komunitas selalu menjadi komoditi dalam politik. Aremania yang mempunyai domain sangat besar dan terbilang solid, tentu menggiurkan bagi semua partai politik untuk mencari dukungan. Hanya saja, tanpa disadari para politikus, partai politik justru menghadapi resistensi besar di dunia olahraga.

Saya melihat sebagian besar Aremania justru ogah dikaitkan dengan urusan politik, baik pemilu legislatif (Pileg) maupun pemilihan presiden (Pilpres). Jadi, seandainya saja kedatangan Nirwan Bakrie mempunyai jadwal sampingan yakni membantu partai kuning, sepertinya tak akan banyak memengaruhi pilihan politis Aremania.*


(wbs/koransindo)

Senin, 24 Juni 2013

Terkini Seni Mengajar Ala Instruktur Top Sepak Bola Dunia


"Olahraga sepakbola diakui digandrungi sebagian besar masyarakat di dunia ini. Banyak pelajaran yang sejatinya bisa kita petik dari dunia sepakbola. Salah satunya yakni seni instruktur top dunia menyebarkan potensi para pemainnya."

Olahraga sepakbola diakui digandrungi sebagian besar masyarakat di dunia ini Terkini Seni Mengajar ala Pelatih Top Sepak Bola Dunia
Dalam sepakbola modern, para instruktur sekaligus bertindak sebagai manajer tim. Mereka memantau talenta para pemain, membesarkan pemain, serta meracik taktik sesuai potensi diri pemain. Dengan lisensi kepelatihan yang ketat, mereka dituntut mempunyai kecerdasan intelektual. emosional, moral, dan sosial dalam menangani dan membina pemain. Mereka berjiwa edukatif dan memahami psikologi pemain.

Sebut saja Josep Guardiola yang bisa membesarkan Barcelona semenjak tahun 2009 hingga 2012. Dari instruktur yang demam isu depan menangani Bayern Muenchen itu, kita bisa mencar ilmu bahwa dalam melatih atau mengajar, kasih sayang juga penting selain taktik permainan yang brilian. Di tangannya, Lionel Messi bisa menemukan potensi dan abjad permainan. Kepada Jose Mourinho, kita bisa mencar ilmu perihal diam-diam melatih yang baik, disiplin, dan penuh prestasi. Begitu pula dengan Alex Ferguson yang beberapa waktu kemudian tetapkan pensiun sebagai pelatih. Pemain besar semacam David Beckham dan Ronaldo takkan melupakan jasanya dikala selagi muda berada di Manchester United.

Sebagai pelatih, mereka tidak cuma memberikan taktik dan taktik tim, tetapi juga penggemblengan mental dan pembangunan abjad pemain. Belajar dari mereka, guru tentu tidak hanya bertanggung jawab memberikan bahan pelajaran, tetapi juga harus sanggup mengayomi, mengapresiasi setiap siswanya, dan memperlihatkan teladan yang baik di dalam kelas maupun luar kelas (hlm. 13-14). Pengayoman ini tidak hanya tertujukan kepada siswa yang berperangai baik, tetapi juga berperangai kurang baik. Itulah yang dilakukan Roberto Mancini dikala berhadapan dengan Mario Balotelli yang dikenal sulit dikendalikan.

Sebagaimana instruktur top sepakbola dunia, guru dituntut memahami kepribadian setiap siswa, baik sisi positif maupun negatifnya. Kesanggupan memahami kepribadian para pemain juga dicontohkan Antonio Conte yang berhasil membawa Juventus juara Liga Italia demam isu 2011-2012 dan demam isu 2012-2013. Conte mempunyai pendekatan berbeda-beda dengan nuansa edukatif dan penuh motivasi sesuai dengan abjad setiap pemainnya. Tak jauh berbeda dengan dunia pendidikan, guru pun harus mengayomi semua siswanya dari segala usia. Pengayoman ini penting dilakukan sembari memahami abjad siswa (hlm.28-29).

Kalau kita saksikan, instruktur top sepakbola dunia yang berhadap-hadapan dengan pemain yang pembangkang selalu memperlihatkan hukuman atau penegakan kedisiplinan, namun mereka tidak pilih kasih. Pelatih top sepakbola dunia percaya pemain bandelnya bisa merubah diri dan tetap dimainkan apabila dinilai layak main dan telah memperbaiki sikap. Itulah yang perlu ditiru guru dikala berhadapan dengan siswa yang bandel, pemalas, dan kurang disiplin yang kerapkali ditemui dalam dunia pendidikan (hlm. 46-47).

Belajar dari instruktur top sepakbola dunia, guru harus bertindak sebagai orangtua dan sahabat. Apabila guru ibarat itu, maka akan lebih bisa menyelami hati setiap siswa. Belajar dari instruktur top dunia, guru jangan hanya suka berkomunikasi dan mengapresiasi siswa yang berprestasi akademik tinggi, tetapi juga kepada siswa yang prestasi akademiknya rendah. Setiap siswa itu unik dan mempunyai kelebihannya masing-masing.

Dalam hal ini, perlu disadari, setiap siswa dilahirkan dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Pada dasarnya, setiap siswa itu cerdas. Merupakan kiprah penting pendidikan untuk membantu siswa menjadi langsung yang autentik (authentic dalam bahasa Inggris) dengan mengenali dan menyebarkan kecerdasannya masing-masing. Kata “authentic” berasal dari dua kata, yakni “autos” yang berarti diri dan “hentes” yang berarti asli. Pribadi yang autentik berarti menjadi diri sendiri. Dengan kata lain, kecerdasan siswa yang khas perlu diberi ruang aktualisasi supaya tidak terpendam dan mati. Begitulah yang dilakukan para instruktur top sepakbola dunia terhadap para pemainnya. Kelebihan dan keunikan setiap pemain asuhannya senantiasa dihargai.

Bagi guru yang kreatif dan berpikir terbuka, semangat instruktur top sepakbola dunia dalam membina dan menyebarkan para pemainnya perlu diadopsi dalam proses mencar ilmu mengajar. Mereka bisa dijadikan sosok-sosok inspiratif dalam cara menjadi guru bagi siswa-siswa di sekolah. Kebahagiaan seorang guru yakni apabila bisa menyebarkan potensi siswanya. Guru akan berbahagia dikala menyaksikan siswanya mempunyai kemampuan dan kecakapan untuk menjalankan kehidupan. Buku ini menarik dibaca supaya guru tak sekadar puas masuk kelas dan mengajar, tetapi juga bisa membesarkan siswa-siswanya sesuai potensi yang dimiliki siswa.

Apakah Anda tertantang menjadi guru inspiratif yang menghasilkan siswa-siswi berprestasi ? Buku ini pantas berada di tangan anda.
*) Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Kamis, 03 Januari 2013

Terkini Peristiwa Diego Mendieta, Saat Para Elite Buta Mata Dan Hati


Sudah sepantasnya para elit politik kita mawas diri, terutama bagi mereka yang suka memelihara konflik dan menerima laba bahan dari iklim sepakbola yang tidak kondusif. Para jampuk kesiangan ini laksana getah yang dibawa ke semak, kasus yang sudah kusut menjadi teramat kusut alasannya perbuatan mereka.

Apakah layak para elit itu masih terus bermain dalam bara konflik, membuat banyak halilintar namun tiada hujan yang tercipta, sementara tidak sedikit korban yang berjatuhan disana-sini baik Tim Nasional, klub sampai para pemain.

Dua tahun terakhir sepakbola Indonesia laksana berjudi dengan nasib. Konflik pelik yang melahirkan dualisme kompetisi bukannya melahirkan kekuatan terbaik untuk mendorong Indonesia bersaing dalam tatanan sepakbola Asia, namun hanya menghasilkan pujian semu, kemenangan sorak meski kalah bersabung.

Rasanya gres kemarin kita menyaksikan Timnas Indonesia jatuh ke jurang keterpurukan, para suporter yang menjadi tumbal konflik, dan kini Diego Mendieta pemain Persis Solo di Divisi Utama PT Liga Indonesia meregang nyawa di tengah minimnya agresi manusiawi oleh para elit yang masih memikirkan perutnya sendiri ketimbang nasib sesama manusia.

 Sudah sepantasnya para elit politik kita mawas diri Terkini Tragedi Diego Mendieta, Ketika Para Elite Buta Mata dan Hati

Diego Mendieta meninggal dunia sesudah terjangkit virus yang menjalar ke bab badan sampai otaknya, serta jamur candidiasis di bab tenggorokan sampai pencernaan. Pemain yang lahir pada 13 Juni 1980 ini meninggalkan sepakbola Indonesia dengan menyisakan cerita ironis dan menjadi tamparan telak bagi stakeholder sepakbola Indonesia yang bertikai.

Enam bulan sisa kontraknya bersama Persis Solo senilai 120 juta rupiah belum terbayar sampai ajal menjemputnya. Pun demikian dengan bonus penampilannya di Batik Cup lalu. Padahal bila dikalkulasi nilai 120 juta untuk jangka enam bulan gotong royong bukanlah beban berat untuk diselesaikan dibandingkan omzet rata-rata klub Divisi Utama Liga Indonesia yang lebih besar nilainya daripada itu.

Namun angka 120 juta rupiah itulah harga yang harus ditebus Diego Mendieta dengan nyawa. 120 juta rupiah itu pula nominal yang menjamin harkat hidup dan meraih asa bangga bagi Diego yang tidak sanggup pulang ke negaranya alasannya menunggu pembayaran hak yang terkatung-katung. Tidak terperinci siapa yang mesti bertanggung jawab pasca manajemen Persis Solo 'membubarkan diri' selepas berakhirnya kompetisi demam isu lalu.

Selama menunggu hak-hak yang tak kunjung terbayarkan Diego masih setia menemani klubnya bermain. Ia melakukannya meski tidak ada bantuan, biarpun itu hanya berupa paksaan atau punishment dari operator kompetisi kepada klub membayar kewajibannya. Perhatian saja minim, sumbangan apalagi. Ironis!

Perhatian kepada Diego justru tiba dan ditunjukkan Pasoepati(Suporter Persis Solo) dan FX Hadi Rudyatmo(Walikota Solo)ketika ia terbaring di rumah sakit. Para elit nampaknya harus melek dan membayangkan kesedihan yang harus ditanggung keluarga, istri dan belum dewasa Diego. Mereka(keluarga Diego) melepas Diego ke Indonesia untuk memutar roda penghidupan keluarga, apa daya yang terjadi justru cerita sebaliknya, Diego harus berpulang selamanya menghadap Sang Khalik.

Peristiwa meninggalnya Diego Mendieta yaitu buruknya potret perhatian para elit, baik pengurus organisasi(KPSI/PSSI), operator kompetisi(PT LI) sampai pengurus klub. Tak terhitung berapa liter kucuran keringat pengorbanan dan andilnya untuk menjaga berputarnya klub dan gambaran kompetisi. Diego nyaris hidup menjadi 'sukarelawan'.

Para elit sepakbola Indonesia harus instrospeksi. Perhatian kepada para pemain sungguh terbilang minim. Kejadian yang dialami Diego Mendieta bukanlah pertama kali. Sebelumnya alm. Jumadi Abdi(PKT Bontang) meninggal pasca pertandingan melawan Persela di tahun 2009 lalu. Masih gres kejadian yang menimpa Iqbal Samad(Persiba) ketika mengalami cedera parah pada kakinya pasca terkena petasan yang diakibatkan oleh penonton di Samarinda tidak menerima balasan serius dari operator kompetisi. Alih-alih mengambil tindakan untuk menunjukkan proteksi kepada para pemain, malah tidak ada agresi intensif dari operator kompetisi untuk mencegah kejadian berulang dikemudian hari.

Tindakan dan perhatian bukan saja pada bentuk kepastian terbayarnya hak pemain oleh masing-masing klub, namun juga proteksi kesehatan berupa asuransi dan perawatan rumah sakit yang memadai. Terkadang tidak semua pemain dibayar 'mahal' oleh klub baik dalam bentuk bahan dan fasilitas. Sebagian dari mereka hanya menerima bayaran 'sepantasnya' meski dituntut ekspektasi sebegitu tinggi oleh klub untuk menerima prestasi setinggi-tingginya.

Apa yang menimpa Diego Mendieta sanggup terjadi pada para pemain di klub dan kompetisi lain. Terutama bagi para pemain yang berlaga di bawah level kompetisi profesional, dan sejujurnya menerima akomodasi kesehatan dan kesejahteraan jauh dibawah para pemain yang berada di level kompetisi diatasnya.

Diharapkan para elit politik yang masih terus berlindung dalam kubangan konflik ini tidak saling lempar watu dan tunjuk tangan atas kejadian yang menimpa Diego Mendieta. Patut menjadi cermin bagi para elit tersebut untuk tidak banyak menebar opini destruktif dan jaga image di depan media semata.

Diego Mendieta memang bukanlah 'anak bangsa' Indonesia. Ia sebagai pemain sepakbola dilindungi hak-haknya sesuai dengan hukum yang digariskan FIFA. Dengan statusnya sebagai pemain dan warga negara asing(WNA) patut menjadi perhatian para elit yang masih menjaga dapat dipercaya politik individu dan kelompoknya dibandingkan dapat dipercaya bangsa dan keselamatan para pemainnya.

Mungkin saja perhatian 'semu' dari para elit tersebut tidaklah cukup untuk mencegah kejadian berulang. Diperlukan regulasi yang adil dan membela hak para pemain. Jika perlu penerapan hukuman yang tegas, mengikat dan konsisten harus dilakukan. Hilangkan pula budaya kompromi dan kolusi yang hanya menguntungkan salah satu pihak saja dan mengabaikan hak para proletar menyerupai halnya para pemain sepakbola kita.

Kaum elit tersebut harusnya sadar, sepakbola bukanlah ajang usaha politik. Sepakbola mengajarkan kita akan pentingnya fair play, berlakulah adil bukan kepada pimpinanmu namun juga para pemain yang kalian tegakan untuk diperas keringatnya. Sepakbola bukan pula ajang hingar bingar dan kemeriahan kompetisi tanpa mengacuhkan sisi manusiawinya.

Memang tidak salah Erwiyantoro, penulis Buku 'Sepakbola Indonesia Tertinggal 50 Tahun' kini saatnya kedua forum PSSI dan 'KPSI' harus legawa untuk instrospeksi semoga mempunyai lebih banyak waktu untuk melaksanakan pembenahan semoga tertib administrasi, disiplin organisasi dan profesional menjalankan roda manajemennya.

R.I.P Diego Mendieta
Sudah cukup pelanduk mati terinjak ditengah gajah bertarung...
(wearemania.net)

Selasa, 04 Desember 2012

Terkini Save Arema - Socios Di Spanyol

Sepakbola ialah olahraga terpopuler di Spanyol, baik untuk dimainkan di atas lapangan hijau maupun ditonton langsung di stadion/televisi. Lebih dari 700ribu pemain sepakbola berlisensi di Spanyol dan menjadikannya sebagai salah satu cabang olahraga yang mempunyai pemain profesional terbanyak di Negeri Matador tersebut.

Survei The Sociological Research Center(Centro de Investigaciones Sociologicas/CIS) memperlihatkan dari penggemar aneka macam cabang olahraga, sekitar 56,1% membeli sedikitnya 1 buah tiket pertandingan sepakbola selama setahun, berbanding 19,2persen untuk cabang olahraga bola basket.

Survei ini dilakukan pada tahun 2005, dikala tim bola basket Spanyol berada di kondisi puncak. Saat itu mereka menjadi semifinalis di ajang Euro basket, dan setahun sesudahnya mereka menjadi yang terbaik di kejuaraan bola basket sedunia dibawah FIBA. Di tim bola basket Spanyol dihuni oleh sederetan pemain tenar menyerupai Pau Gasol(sekarang Los Angeles Lakers), Rudy Fernandez(sekarang bermain di Portland Trail Blazers), dll. Bandingkan dengan tim sepakbola Spanyol yang harus menunggu 3 tahun lagi untuk menjadi juara Eropa.

Sepakbola ialah olahraga terpopuler di Spanyol Terkini Save Arema - Socios di Spanyol

Dari sekian penggemar sepakbola di Spanyol, jumlah pemberian yang diberikan mengerucut kepada 2 klub paling tenar, Real Madrid dan Barcelona. Polling CIS di bulan Juli 2010 menyebutkan Real Madrid ialah tim dengan suporter terbanyak(33%), diikuti oleh Barcelona(26%) dan Valencia berada di peringkat ketiga dengan 5%.

Dukungan yang diberikan oleh penggemar sepakbola tersebut bermacam-macam bentuknya. Dengan survey yang memperbolehkan responden menentukan lebih dari 1 jawaban, mayoritas(72%) menonton pertandingan sepakbola lewat layar televisi, diikuti dengan kepemilikan emblem, scarf, dll(42persen), dan sekitar 36,9% memperlihatkan pemberian dengan menonton langsung di stadion. Yang menarik 15% pemberian juga diberikan dalam bentur tour dikala tim kesayangannya bertandang ke sangkar lawan.

Besarnya pemberian kepada suporter mengambarkan adanya pemberian yang loyal dan militan kepada klub. Besarnya pemberian suporter andil memperlihatkan revenue dalam jumlah besar kepada klub. Laporan Deloitte untuk Football Money League 2011 menempatkan Real Madrid dan Barcelona sebagai klub sepakbola dengan pendapatan terbesar di dunia. Setiap ekspresi dominan ratusan juta euro berhasil didapat dari penjualan tiket pertandingan dan merchandise.

Struktur Kepemilikan Klub Sepakbola Spanyol
Sekarang ini banyak kepemilikan klub sepakbola di Spanyol berdasarkan oleh kepemilikan pribadi atau yang bersifat tertutup namun ada juga yang berasal dari anggota asosiasi menyerupai Real Madrid, Barcelona, Athletic Bilbao dan Osasuna.

Jumlah anggota asosiasi yang berasal dari pendukung Barcelona berjumlah 170000 anggota, diikuti Real Madrid 69000, Athletic Bilbao 34373, dan Osasuna 15016. Para anggota asosiasi tersebut tidak hanya mengumpulkan iuran tiap tahun untuk dipakai membantu program sosial klub tetapi juga andil dalam pemilihan petinggi klub setiap periodenya. Dengan demikian aspirasi suporter terjamin lewat 'wakil' yang ditempatkan sebagai petinggi klub tersebut.

Contohnya saja kebijakan untuk belanja jikalau anggaran untuk belanja lebih besar dari 20persen anggaran klub di ekspresi dominan tersebut maka harus menerima persetujuan dari anggotanya. Artinya klub dilarang absolut memakai uangnya. Hal ini cukup menjamin finansial klub yang sehat.

Cukup banyak problem finansial yang terdapat di klub sepakbola alasannya ketidakmampuan untuk mengatur anggaran belanja klub. Di Italia, beberapa klub yang menerima predikat 'The Magnificent Seven' menyerupai Parma, Lazio dan terlebih Fiorentina pernah mengalami krisis keuangan yang teramat parah. Fiorentina yang berasal dari Firenze bahkan pernah mencicipi didegradasikan sampai beberapa level dibawahnya alasannya permasalahan manajemen keuangan.

Di Inggris yang notabene representasi dari kompetisi sepakbola terelit di belahan dunia juga tidak luput dari bahaya krisis finansial. Yang terbaru Southampton dan Crystal Palace masuk manajemen alasannya problem keuangan yang tak terselesaikan. Keduanya bahkan terjerembab ke Championship dan menunggu waktu untuk kembali ke Premiership.

Berangkat dari 'ancaman' tersebut tidak ada salahnya jikalau kita menengok sistem persepakbolaan di Spanyol. Dari 4 klub La Liga diatas yang memakai struktur kepemilikan berbasis suporter masih eksis semenjak kala ke 19 sampai sekarang.

Seperti layaknya sebuah negara. Para stakeholder klub tersebut memakai istilah socios, semua saham klub dimiliki anggota yang otomatis merupakan suporter. Socios mempunyai hak menentukan masa depan tim dengan menentukan presiden, dewan direksi, dan dewan pengawas. Setiap orang, baik warga negara Spanyol atau absurd serta dari kalangan mana pun, bebas dan mempunyai hak menjadi anggota. Pemilihan sanggup memakai beberapa metode, biasanya memakai sistem online dengan melibatkan sebuah jaringan IT yang mempunyai security dan database tersendiri.

Barcelona yang mengadopsi sistem demikian memperlihatkan keleluasaan bagi suporter untuk andil dalam membuatkan klub. Untuk menjadi anggota klub atau yang lazim disebut socios tiap anggota memperlihatkan iuran tahunan sebesar 159 poundsterling. Total dari 170ribu anggotanya, Barca mendapatkan dana segar sekitar 27juta poundsterling untuk kepentingan sosial klub.

Terminologi kepemilikan klub menyerupai Barcelona memperlihatkan identitas bagi keterwakilan ideologi sepakbola bahwa kekuasaan terbesar sebuah klub seharusnya berada di tangan suporter, bukan investor yang haus uang tanpa mengerti tradisi.

Socios juga memperlihatkan iklim demokrasi kepada klub. Socios menentukan perangkat manajemen klub dengan cara yang demokratis. Imbal baliknya Klub akan membangun korelasi dengan komunitas lokal dan sanggup diakses oleh semua kalangan suporter.

Setiap simpulan musim, socios akan menggelar rapat penilaian menyeluruh ihwal prestasi tim maupun kondisi keuangan. Bila ternyata sasaran yang ingin dicapai gagal terwujud, socios sanggup meminta tanggung jawab presiden klub. Real Madrid contohnya. Presiden Madrid sekarang, Florentino Perez sempat mencicipi pesakitan dan terdepak dari klub dikala proyek Los Galaticosnya gagal menuai ekspektasi anggota klub.

Dalam arti lain siapapun yang hendak mencalonkan diri sebagai presiden klub harus mempunyai kapabilitas dalam mewujudkan visinya. Presiden klub tidak hanya dituntut untuk bisa memperlihatkan prestasi kepada klub, tetapi juga menjamin klub atau dirinya sebagai perwujudan wakil socios yang berpihak kepada klub/suporternya dan bukanlah representasi dari kepentingan personal dan kelompoknya.

Di Arema kita sanggup mengadopsi syarat ini, memastikan wakil yang terpilih di jajaran klub bekerja sepenuhnya untuk Arema. Mereka menerima kemudahan secara profesional dan sebaliknya harus bekerja secara totalitas untuk Arema. Tidak dibenarkan adanya perseorangan/kelompok yang duduk di dingklik manajemen Arema bekerja untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya diluar visi dan misi(AD/ART) klub.

Performa Finansial
Pendapat di La Liga didominasi oleh Barcelona dan Real Madrid. Pendapatan dari kedua klub tersebut menyumbang prosentase sebesar 48%(hampir setengah) dari seluruh pendapatan klub La Liga di ekspresi dominan 2006/2007.

La Liga ialah satu dari lima besar kompetisi sepakbola di dunia yang menghalalkan klub untuk mempunyai kontrak hak siar pribadi dengan jaringan Televisi. Pendapatan dari hak siar TV untuk Real Madrid dan Barcelona berdasarkan Deloitte jikalau dikombinasikan mencapai diatas 335juta euro untuk setahunnya. Jumlah ini jauh mengangkangi klub-klub di Liga Premier Inggris maupun Serie A.

Dari sektor lain contohnya pendapatan komersial, Barcelona dan Real Madrid menyumbang pemasukan sebesar 54% di tahun 2007 dari pendapatan total klub La Liga berdasarkan sektor komersial.

Walaupun di Barcelona terdapat 170ribu anggota klub yang melaksanakan iuran setiap tahun sebesar 159 poundsterling mereka juga tetap membeli tiket pertandingan dikala klubnya berlaga di Nou Camp. Dengan kapasitas stadion sekitar 90ribu orang ke170ribu anggota klub mudah bisa dibilang 'berebut' dingklik untuk menonton pertandingan klubnya. Dan itupun mereka melakukannya dengan membayar tiket secara resmi!

Tahun kemudian pendapatan Barcelona dari sektor tiket mencapai lebih dari 97juta euro setahunnya. Hal ini mengambarkan bahwa para anggota klub selain berfungsi membantu untuk membangun klub dengan menentukan calon presiden klub yang kapabel juga ikut serta dalam menjaga finansial klub yang dicintainya.

Berdasarkan isu dari Deloitte, Barcelona dan Real Madrid merupakan dua diantara 3 klub terkaya di dunia. List yang dikeluarkan oleh Deloitte mungkin tidak menjelaskan secara detail kondisi sebenarnya. Namun setidaknya data yang ada cukup memperlihatkan performa keuangan Real Madrid dan Barcelona sebagai dua entitas klub terbesar di ranah Spanyol.

Real Madrid dan Barcelona juga jarang sekali(atau bisa dibilang tidak pernah) terlibat duduk masalah dengan pembayaran honor pemain. Asosiasi pemain yang tergabung dalam Asociacion de futbolistas Espanoles/AFE mendapatkan 161 komplain di ekspresi dominan 2006/2007. Komplain juga berasal dari pemain yang berlaga di kasta ketiga/semi profesional dengan klaim lebih dari 4,1juta euro. Klub sebesar Levante juga sering mendapatkan komplain dari pemainnya mengenai honor yang tidak terbayar dan bahaya mogok dari pemainnya.

Di Spanyol hukum mengenai kesehatan finansial klub dijalankan secara ketat. Hal ini untuk menjaga kompetisi berjalan ke arah yang benar dimana tidak lagi adanya keluhan berupa problem finansial yang menghinggapi klub.

Di sisi lain pemerintah Spanyol juga mengumumkan sebanyak 6 klub di kasta pertama, 16 klub di kasta kedua dan 91 lain dibawahnya diminta untuk menurunkan besaran hutang mereka. Pemerintah Spanyol juga mengumumkan klub-klub di Spanyol yang berutang kepada negara sebesar 607juta euro, dan ancamannya didegradasikan secara paksa jikalau tidak terdapat perbaikan finansial klub.

Kultur Penggemar Sepakbola
Budaya sepak bola Spanyol bisa dianggap cermin keragaman yang luas dalam masyarakat Spanyol. Oleh alasannya itu, budaya sepakbola Spanyol dipengaruhi oleh politik dan sejarah, dan keragaman dalam pendukung sepak bola mencerminkan visi yang berbeda dari Spanyol. Di setiap kota/wilayah terdapat klub yang berdiri, berdiri sebagai simbol dan mewakili benderanya.

Ada juga gerakan suporter untuk mendukung tim regional/nasional menyerupai Basque dan Catalonia. Basque mempunyai klub Athletic Bilbao yang menjadi representasi pandangan politik warganya. Begitu juga dengan Klub Barcelona dengan warga Catalonia. Bahkan sudah terdapat 'Tim Nasional' Catalonia yang diperkuat beberapa pemain Barcelona dan Osasuna. Sudah tidak terhitung jumlah pertandingan internasional yang melibatkan Catalonia.

Pengaruh politik pada sepakbola Spanyol sangat besar lengan berkuasa dan berbeda dibandingkan dengan negara lainnya di benua Eropa. Jika persaingan antara Glasgow Celtic dan Rangers dipengaruhi atas issue yang berbau religi tidak demikian di Spanyol atau bahkan Indonesia yang sebagian klubnya berasal dari semangat eksistensi kedaerahan.

Real Madrid dipandang sebagai 'Tim Spanyol' berkat lima trophy juara di awal pergelaran Piala Champions Eropa(sekarang Liga Champions Eropa/UCL). Real Madrid juga mendapatkan penghargaan Duta Besar Spanyol berkat bantuan mereka dalam penggunaan 'external image' dari negara Spanyol.

Di lain pihak Barcelona dianggap sebagai 'duta besar tak resmi' dari provinsi Catalonia yang sudah usang meminta kemerdekaan terhadap pemerintah Spanyol. Persaingan yang berbau politis ini turut memberi bumbu rivalitas diantara keduanya. Dalam skala lain rivalitas serupa hadir di Spanyol dan dianut beberapa klub lain menyerupai Real Betis dan Sevilla, Deportivo La Coruna dengan Celta Vigo, Atheltic Bilbao dengan Real Sociedad dan lain sebagainya.

Sugesti
Situasi keuangan di beberapa klub yang menganut sistem kepemilikan berdasarkan keanggotaan klub cukup menguntungkan bagi pengembangan klub itu sendiri. Keuntungan yang diperoleh bukan saja berupa laba materiil tapi juga untuk sesuatu yang tidak sanggup diukur dengan uang, contohnya transparansi kinerja klub, peningkatan rasa kepemilikan klub dari anggota(yang otomatis bertindak sebagai suporter) kepada klub, dan lain sebagainya.

Gerakan kepemilikan klub oleh asosiasi anggota yang bertindak sebagai suporter juga mendorong Gerakan Supporters Direct di Spanyol/Eropa untuk mengontrol klub terutama terhadap performa finansial dan bahaya hutang.

Banyak sekali dewan direksi klub yang bekerja untuk jangka pendek dan meraih sasaran berupa prestasi. Jika tidak direncanakan secara matang dan memperhatikan kemampuan finansial klub sanggup mengakibatkan peristiwa berupa problem keuangan yang dalam beberapa masalah berakibat pada kebangkrutan.

Pengembangan Supporters Direct juga sanggup membuat solusi yang positif bagi kemajuan klub yang dilandasi semangat transparansi dan demokratis. Fokus kinerja ini sanggup dititik beratkan pada planning jangka panjang klub dan reformasi yang lebih luas kepada industri sepakbola.

Pelajaran yang diterima bagi pengembangan sepakbola di Arema ialah semangat yang melingkupi para socios dan rasa kepemilikan kepada klub. Dalam skala sempit yang sanggup dipakai untuk Arema, semangat ini sanggup mengilhami Aremania untuk tidak hanya 'buta fanatisme' untuk hanya sekedar menyukai klub tetapi juga terpikir atau keluar idealismenya dalam membuatkan klub.

Pemilihan presiden klub dan perangkatnya dilaksanakan secara demokratis, jauh dari bahaya konflik kepentingan atau kepentingan terselubung diluar sepakbola dan agenda untuk memajukan klub itu sendiri. Untuk hal menyerupai ini agar stakeholder Arema tercerahkan bahwa untuk memajukan klub sanggup dilakukan dengan cara menyingkirkan kepentingan diluar koridor sepakbola.

(sumber:wearemania.net)

Senin, 26 November 2012

Terkini Kesempatan Menebus Dosa Era Lalu


Saga Arema Indonesia dan Pelita Jaya berakhir sudah. Rencana merger yang sempat menghebohkan itu karenanya pupus seiring langkah Pelita Cronous mengakuisisi 100% saham Arema dan melepas Pelita Jaya ke Bandung Raya.

Sebuah skenario yang jitu. Bakrie sangat tahu Arema membutuhkan investor dan sekaligus menyadari Pelita Jaya sama sekali tidak berprospek bagus. Namun ada dongeng menarik di balik saga kedua klub tersebut. Bagi saya yang paling menarik yaitu sosok Iwan Budianto.

 Rencana merger yang sempat menghebohkan itu karenanya pupus seiring langkah Pelita Cronous Terkini Kesempatan Menebus Dosa Masa Lalu

Pria yang pernah menjadi manajer Arema Malang di awal 2000-an tersebut kini duduk sebagai CEO Arema Indonesia. Setelah sebelumnya menjadi CEO Pelita Cronous yang membawahi Pelita Jaya, Iwan mendapat keyakinan menjadi CEO Arema sesudah diakuisisi Bakrie Grup.

Keberadaan Iwan di Arema menjadi pembukti bahwa tidak ada musuh abadi di dunia sepakbola. Di sini benang merahnya. Bercerita soal perjalanan Iwan, saya harus kembali lagi ke era 2002-2003 silam. Peristiwa yang telah berlalu satu dasawarsa namun saya yakin masih diingat benar oleh Aremania.

Tahukah apa predikat yang disematkan Aremania kepada Iwan Budianto kala itu ? “Pengkhianat”. Ya, Iwan Budianto menjadi musuh besar bagi Aremania sesudah meninggalkan Stadion Gajayana dan menuju Stadion Brawijaya, Kediri, untuk menangani Persik Kediri. Tak sekadar geser ke Kediri, Iwan juga membawa hampir seluruh skuad Arema.

Bedol desa itu merupakan kejadian paling menyakitkan, apalagi Singo Edan sedang krisis keuangan. Kebencian Aremania kepada Iwan Budianto semakin menjadi alasannya ekspresi dominan berikutnya Persik Kedisi juara Divisi Utama (sebelum ada ISL), sedangkan Arema harus degradasi ke Divisi I.

Sejak itulah sejarah permusuhan Arema - Persik diawali dan sampai kini kedua supporter klub tidak pernah akur. Sebenarnya bukan perpindahan Iwan Budianto yang memicu kebencian Aremania waktu itu. Namun keputusannya membawa rombongan besar pemain Arema ke Kediri.

Saat Iwan duduk di posisi manajer tim Arema mendampingi Lucky Adrianda Zaenal, prestasinya juga tidak mentereng. Hanya saja Iwan yang kondang sebagai menantu Walikota Kediri ketika itu dipandang sebagai sosok yang akil 'mencari duit' untuk menopang keuangan Arema yang reot.

Namun seiring pergantian waktu, kebencian Aremania terhadap Iwan Budianto bertahap mulai luntur. Selain Iwan sudah tidak berada di Persik, laki-laki yang pernah kesandung info suap pada 2011 kemudian ini juga tidak lagi bersentuhan dengan Arema. Aremania juga sudah mulai lupa pada sosok Iwan Budianto.

Jelang ekspresi dominan 2011-2012 lalu, Iwan mulai muncul kembali di Malang dan berencana menjadi investor Arema. Tapi planning karenanya gagal alasannya adanya sengketa di badan Singo Edan. Satu ekspresi dominan berselang, karenanya ia benar-benar berhasil kembali ke Malang dengan membawa bendera Bakrie Grup.

Mulai menggagas kerjasama Arema-Pelita, planning merger, sampai karenanya mengakuisisi Arema Indonesia. Posisi CEO Arema ibaratnya menjadi pencuci nama bagi Iwan Budianto yang pernah menjadi public enemy bagi Aremania sepuluh tahun silam. Dia seakan mendapat kesempatan 'menebus dosa' kepada Arema, meski nyata-nyata ia adal seorang Arema.

Aremania pun sepertinya sudah tidak antipati terhadap sosok yang pernah duduk di kepengurusan PSSI ini. Sudah tidak ada lagi kebencian atau omongan miring soal Iwan Budianto yang dulu dicap pengkhianat. Apa alasannya Iwan kali ini tiba membawa uang ? Entahlah. Menurut saya supporter mulai sadar tak ada gunanya menanam dendam di sepakbola.

Lagipula, bagi klub sepakbola, uang terperinci lebih jauh penting dibanding sebuah kebencian. Jika hanya ngotot dengan kebencian, maka Arema mungkin tidak akan mendapat investor kakap mirip sekarang. Arema tetap menjadi tim dengan rekening melompong.

Harus diakui Iwan Budianto menjadi sosok vital di balik akuisisi Arema Indonesia oleh Pelita Cronous. Iwan lah otak yang merancang skenario di Stadion Kanjuruhan selama ini, walau harus didahului dengan polemik soal planning merger Arema-Pelita. Well, 'From Zero to Hero'

(sumber:sindo)

Rabu, 19 September 2012

Terkini Yang Tertinggal Selama Arema Berkonflik

Seri : Merangkai Kembali Tinta Emas Singo Edan (1)

Di kantor saya pernah mempunyai seorang sobat yang merupakan pendukung dari Persib Bandung, salah satu klub Liga Super Indonesia(ISL) yang kini menjadi seteru Arema. Ichsan, sobat saya yang mengaku sebagai bobotoh meski tidak mempunyai keterikatan emosional dengan beberapa organisasi suporter Persib menyerupai Viking, Bomber, dan lainnya. Namun baginya urusan klub sepakbola lokal hanya Persib di hatinya.

Seperti biasa, bila menyangkut dialog perihal klub sepakbola yang dibela, saya dan Ichsan niscaya akan memasang perilaku defence untuk mendukung timnya. Topik dialog yang digulirkan ada bermacam-macam, mulai dari seputar kekuatan tim, prestasi hingga beberapa hal lain yang menyangkut diantara kedua tim tersebut.

 Merangkai Kembali Tinta Emas Singo Edan  Terkini Yang Tertinggal Selama Arema Berkonflik

Urusan kekuatan tim memang saya tidak bisa memungkiri bila beberapa tahun terakhir Persib seolah menjejakkan diri sebagai klub bertabur bintang. Sederet pemain beken bergantian menghiasi komposisi klub setiap tahunnya, menyerupai Eka Ramdani, Yaris Riyadi, Maman Abdulrachman hingga formasi pemain absurd sekaliber Christian Gonzalez, Christian Bekamenga dan lainnya.

Namun, diantara sederet pemain beken tersebut nyaris tidak menghasilkan suatu hasil yang berarti berwujud trophy dan medali penghargaan. Sejak meninggalkan "pakem" dimana kekuatan Persib yang dulunya ditopang lebih dari 90% pemain berasal dari Jawa Barat justru belum pernah mencicipi nikmatnya menjadi juara. Terakhir kali mereka menjadi juara di tahun 1994/1995, ketika hanya menyisakan Sutiono, satu-satunya pemain non Jawa Barat di starting line up Persib kala menghadapi Petrokimia Putra di final Liga Indonesia I.

Untuk hal yang menyerupai ini, setidaknya saya bisa sedikit mengerjai sobat saya dengan menawarkan sindiran halus "Your player make money, but our player make history", salah satu sindiran yang diungkapkan oleh pendukung Manchester United kepada rival sekotanya, Manchester City. Untuk hal menyerupai ini, sebagai Aremania tentu saja saya bisa sedikit membusungkan dada atas prestasi yang diraih oleh tim Singo Edan. Namun, cukup hingga disitu saya bisa sedikit tersenyum, kisah selanjurnya malah lebih menciptakan saya sedikit terhenyak.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti bagi usaha untuk mendirikan dan menjaga tim sebesar Arema, namun beberapa fakta yang saya ceritakan nantinya semoga bisa menjadi dorongan konkret untuk Arema dan Aremania untuk berbuat lebih bagi klub yang kita cintai ini.

Tak banyak dari kita yang mengetahui bila Persib Bandung mempunyai mess dan tempat latihan tersendiri. Fauzan, salah seorang bobotoh sekaligus sobat usang ketika masih aktif di lembaga ligaindonesia menceritakan lewat blognya fauzan47 mengenai lingkungan stadion Persib yang terdiri dari mess dan sarana latihan yang sanggup dipakai sebagai tempat latihan Persib.

Mess dan sarana latihan ini dibangun beberapa tahun lalu, dan resmi dipakai pada 5 Mei 2008. Mess ini mempunyai akomodasi yang beraneka ragam menyerupai lapangan sepakbola yang berjulukan lapangan Sidolig, yang terletak di depan mess pemain Persib. Keberadaan lapangan ini tentu saja sejatinya cukup menunjang bagi tim berjuluk Maung Bandung tersebut.

Letak yang strategis dan bersebelahan dengan mess tidak menguras tenaga tim untuk mencari sarana latihan yang lebih jauh menyerupai di Stadion Siliwangi ataupun tempat lainnya(Bandingkan bila Arema harus mencari tempat latihan yang berjarak puluhan kilometer dari mess!). Pun demikian dengan problem perawatan, tahun kemudian Pemkot Bandung 'menyumbangkan' dana 600juta rupiah untuk memperbaiki kondisi rumput dan mess pemain.

Selain itu didalam mess pemain Persib juga terdapat sederet kamar pemain beserta fasilitasnya menyerupai tempat tidur, pendingin udara/AC, lemari, dsb. Untuk menunjang kebutuhan pemain didalam mess juga dilengkapi dengan ruang tamu VIP, dapur hingga peralatan lain.

Awalnya ketika membangun mess tersebut akan dilengkapi dengan komplemen bangunan berupa sentra merchandise Persib dan mess untuk diklat Persib. Namun, seiring waktu bergulir klub yang berdiri semenjak tahun 1933 tersebut juga berinovasi dengan membangun museum Persib beserta homebase-nya. Komisaris PT PBB Kuswara S Taryono, PT PBB sudah menyiapkan dana untuk pembangunan homebase ini dan masih dilakukan survey untuk lokasi pembangunan homebase tersebut.

 Merangkai Kembali Tinta Emas Singo Edan  Terkini Yang Tertinggal Selama Arema Berkonflik

Homebase ini direncanakan akan dilengkapi akomodasi fasilitas guna memenuhi kebutuhan Persib Bandung, Diantaranya mess pemain, tempat latihan, ruang pertemuan. Selain itu, di homebase ini akan dibangun Museum Persib Bandung. Museum ini akan berisikan perjalanan sejarah Persib Bandung semenjak pendirian hingga dikala ini, dikutip dari laman bola.net.

Sebelum berkutat dengan stadion Persib beserta messnya, Persib juga melaksanakan banyak sekali terobosan dengan mempunyai bus Persib. Bus yang berkapasitas sekitar 40 penumpang dengan konfigurasi seat 2-2, lengkap dengan pendingin udara didalamnya. Bahkan replika/miniatur bus Persib ini juga sanggup didapatkan di Viking Fans Shop, salah satu toko penjual merchandise Persib.

Viking Fans Shop sendiri juga kreatif dalam menjual produknya, mereka juga menjual banyak sekali atribut Persib secara mobile memakai bus yang disulap beratribut Persib dan dinama Viking Fans Shop Mobile Store. Bus tersebut beredar semenjak pukul 10 pagi selama 12 jam di daerah Gedung Sate.

Yang tidak kalah mencengangkan lagi dari acara Persib ialah planning direksi Persib untuk melaksanakan Initial Public Offering/Penawaran Saham Perdana. Jika terwujud maka planning ini menjadi yang pertama dari sejarah klub sepakbola di Indonesia yang telah mempunyai tubuh aturan berbentuk perseroan terbatas.

Seperti dikutip dari laman Detik Finance, dengan jumlah pendukung sekitar 5,3juta orang diperlukan sekitar 1 persennya saja, atau sekitar 50ribu bobotoh berpartisipasi dalam pembelian saham perdana ini. Rencananya jumlah saham yang dilepas sebanyak 45% dan rencananya ini sudah disetujui oleh pemangku saham Persib yang terdiri dari PT Surya Eka Perkasa milik Glen Sugita mantan atlet tenis Jawa Barat sebesar 70%, sedangkan 30% sisanya dipegang oleh 5 individu tokoh asal Jawa Barat.

"Dananya rencananya akan kita gunakan untuk membangun mess dan tempat latihan berstandar AFC. Ini penting alasannya ialah banyak pemain kelas dunia yang mensyaratkan hal ini, demikian juga pelatih-pelatih kelas dunia ingin mess dan tempat latihan yang standar," tukas Farhan dikutip dari situs Detik Finance diatas.

Selain itu Persib juga mempunyai banyak sekali produk media massa baik official maupun non official. Produk yang dibentuk majemuk ada tabloid hingga majalah. Yah, Persib telah mempunyai majalah yang membahas seputar Persib beserta bobotohnya. Kang Novan, jurnalis yang juga blogger, mendata jumlah media Persib sebanyak 10 buah yang terdiri dari 4 majalah dan 6 tabloid (Yang saya ketahui Arema pernah mempunyai 4 buah dari Tabloid Striker, Arema, Singo Edan hingga Forza Arema).

Keberadaan media ini tentu mendukung banyak sekali hal, mulai dari sarana kreatifitas para bobotoh, hingga sebagai sarana pemasaran klub. Dengan jumlah oplah yang beredar mencapai ribuan tentu menjadi nilai tambah bagi klub bila minimal ingin mengintegrasikannya kedalam bentuk presentasi ketika berhadapan dengan sponsor/investor.

Persib juga mempunyai jaringan TV sendiri yang dinamakan sebagai Persib TV (entah, apakah Persib TV ini dikelola pribadi dibawah kendali administrasi Persib atau tidak). Namun, melihat sepak terjang tayangan televisi yang menyiarkan pribadi pertandingan Persib selalu mempunyai TV Rating dan Share Audience yang tinggi (tertinggi di Indonesia), tidaklah heran bila kemudian ada yang beropini perlunya pembentukan Persib TV untuk menunjang promosi klub.

Apa yang dilakukan oleh Persib didukung oleh banyak hal, menyerupai sumbangan yang besar lengan berkuasa dari suporter akan produk bisnis yang berbau Persib, serta faktor iklim yang menopang perkembangan bisnis Persib menyerupai diucapkan oleh Syahrul Sajidin, Aremania asal Tarakan yang aktif menulis di dunia maya. "Bukan diam-diam umum lagi bila Bandung ialah pusatnya industri kreatif di Indonesia dan didukung oleh pangsa pasar yang besar dan menjamur di Jawa Barat dengan puluhan juta penduduknya", tambahnya.

Ibarat gading yang tak retak,memang selama ini Persib bukanlah klub yang sukses 100% dalam pelaksanaannya selepas meninggalkan kucuran APBD untuk beralih sebagai klub yang mandiri. Tiga ekspresi dominan pertama harus dijalani dengan kondisi neraca keuangan negatif dimana klub mengalami kerugian puluhan miliar.

Namun, kerugian tersebut bisa pupus alasannya ialah ditambal oleh beberapa pihak yang bertanggung jawab atas kerugian yang dialami Persib. Sejak dikelola oleh administrasi PT Persib Bandung Bermartabat(badan aturan Persib) kerugian yang dialami klub berjuluk Maung Bandung terus berkurang. Yang istimewa, kebijakan tersebut hanya dianggap menghapus kerugian bagi Persib dan tidak dianggap sebagai hutang. Tentu saja berbeda dengan apa yang dialami Arema, dimana salah satu laman ongisnade.co.id sempat menerbitkan rangkaian artikel yang berisi tanda tanya dalam pengelolaan keuangan Arema.

Menilik relasi antara Aremania dengan Viking (julukan bagi fans Persib) yang tidak berjalan harmonis, tidaklah elok bila kita meninggalkan perilaku sportifitas dalam hal persaingan untuk menuju yang terbaik. Perubahan yang terjadi pada Persib sanggup menjadi pelecut dan semangat bagi Arema untuk maju.

Hambatan adanya dualisme perlu dipikirkan solusinya semoga tidak menghambat kehidupan klub. Persoalan dan cara mengatasinya tentu tidak sanggup diselesaikan dengan cara omelan, makian, cercaan, keluhan ataupun tindakan vandalisme lainnya(teriring inspirasi untuk menuliskan hal demikian sesudah membaca Manufacturing Hope 11 dari Dahlan Iskan).

Mungkin benar apa kata Dahlan Iskan, problem di Arema tidak bisa hanya diselesaikan lewat keluhan dan gerojokan(modal?), menyerupai halnya Erwiyantoro sesepuh sepakbola nasional yang menjadi admin pages Cocomeo News yang beropini para pebisnis di sepakbola tidak sanggup berinvestasi hanya dengan membiayai kebutuhan klub sepakbola dari semusim ke semusim berikutnya, alasannya ialah berapapun modal yang miliki akan habis dalam sekian waktu tertentu.

Makna dari kalimat Erwiyantoro tersebut juga mengajarkan bagi kita untuk sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan tidak mengharapkan jeram modal semata dalam menghidupi klub. Jika perlu Erwiyantoro sanggup mengajarkan kepada kita bagaimana cara mengelola dan berbisnis sepakbola secara benar, dalam artian tidak hanya bisa menghidupi klub di setiap musimnya namun juga menghasilkan keuntungan.

Dengan kondisi demikian, ayo kita bergotong royong lagi mengeluarkan segala penemuan kita untuk memajukan Arema sebagai klub yang kita cintai ini.
"S1J"

(sumber:wearemania.net)

Kamis, 13 September 2012

Terkini Tips Menonton Pertandingan Arema Dengan Cara Legal

Melihat dari sekian ribu Aremania yang biasa aktif mendukung kesebelasan Arema di stadion terdapat aneka macam macam motif untuk tiba dan meramaikan stadion. Ada yang tiba hanya sekedar menyaksikan bintang pujaannya, rekreasi dengan menonton jalannya pertandingan atau memang sedari awal sudah fanatik dengan klub yang bangun pada 11 Agustus 1987 tersebut.

Para suporter yang tiba ke stadion berasal dari aneka macam tempat dengan tingkat ekonomi yang berbeda pula. Ada suporter yang leluasa tiba kapan saja ke stadion tanpa terhambat oleh halangan aktifitas dan kondisi sosial ekonominya, namun ada pula suporter yang tidak leluasa tiba ke stadion alasannya ialah terhambat oleh aktifitas dan kondisi ekonomi yang kurang mendukung.

Melihat dari sekian ribu Aremania yang biasa aktif mendukung kesebelasan Arema di stadion  Terkini Tips Menonton Pertandingan Arema Dengan Cara Legal

Khusus yang terakhir ini memang dirasa sangat menyesakkan saat hasrat untuk menonton pertandingan sudah diubun-ubun harus tertunda alasannya ialah tiada dana. Bagi mereka yang bermodal nekat(baca : bondo nekat) prinsip tiada rotan akarpun jadi sanggup menjadi sarana utama untuk tiba ke stadion. Dengan cara mberowot(baca : menerobos antrian di pintu masuk) atau memanjat dinding stadion mereka sanggup memuaskan hasrat untuk mendukung tim kesayangannya. Perkara jalur yang ditempuh ialah ilegal dan melanggar norma yang ditetapkan sanggup jadi kerap diacuhkan meski hal tersebut berpotensi merugikan klub yang didukungnya.

Namun ada cara legal nan membawa manfaat bagi Aremania yang tanpa modal ataupun minim ingin selalu aktif tiba ke stadion tanpa khawatir harus melaksanakan tindakan yang berujung pada kerugian klub. Misalnya mencoba berbisnis kecil-kecilan yang selisih manfaatnya sanggup dijadikan sebagai modal untuk menonton setiap pertandingan Arema. Apa saja yang sanggup dilakukan Aremania nantinya ?

1. Makanan dan Minuman
Makanan dan minuman merupakan hal yang biasa disajikan atau diperdagangkan didalam ataupun diluar stadion. Ada aneka macam macam bentuk purwarupa masakan dan minuman yang disajikan baik masakan ringan, cemilan atau masakan pokok berkarbohidrat untuk bekal makan siang ataupun malam.

Kebetulan di Stadion Kanjuruhan ataupun Stadion Gajayana pedagang masakan dan minuman masih diperbolehkan berjualan baik didalam dan diluar stadion sepanjang mentaati peraturan yang berlaku. Ada baiknya sebelum berjualan masakan dan minuman Anda memperhatikan beberapa hal yang sekiranya membantu untuk memperlaris dagangan Anda diantaranya:
- Cuaca. Jangan berjualan makanan/minuman hirau taacuh saat cuaca sedang hujan, dsb
- Okupansi Penonton. Semakin ramai kondisi stadion, semakin besar peluang dagangan untuk laku
- Pahami kebutuhan. Kala cuaca panas, berdagang minuman ialah salah satu solusi tepat
- Jangan berjualan masakan yang rentan akan cepat basi
- Giatlah berjualan selama sebelum atau selama jeda pertandingan. Hindari berjualan keliling saat sudah masuk waktu pertandingan.

Di Stadion Kanjuruhan maupun Gajayana, biasanya terdapat puluhan pedagang yang berjualan di dalam maupun luar stadion. Jika Anda pedagang masakan yang membawa gerobak dagangan maka wilayah jualan Anda berada diluar stadion, terkecuali jikalau Anda mau repot-repot membawa sebagian barang dagangan Anda masuk ke dalam stadion dan memastikan gerobak dagangan beserta sebagian isinya masih kondusif untuk ditempatkan diluar. Sangat mustahil membawa gerobak dagangan masuk kedalam stadion bukan?

Diluar itu Anda sanggup membawa barang dagangan sembari menonton pertandingan Arema selama Anda masih sanggup menjaga tata tertib dan hukum yang berlaku.

2. Perlengkapan Suporter
Kebutuhan suporter tatkala tiba ke stadion beraneka ragam. Didalam atau diluar stadion mereka membutuhkan beberapa hal dasar untuk melengkapi hasratnya menonton pertandingan. Sama halnya dengan Aremania, selain masakan dan minuman Anda sanggup juga membawa produk dagangan lain yang dibutuhkan oleh suporter. Misalnya perlengkapan kecil suporter menyerupai terompet plastik, bendera plastik kecil, bundel yang berisi gulungan dan lembaran kertas confetti, dll.

Beberapa perlengkapan tersebut sanggup masuk ke dalam stadion sepanjang tidak terdapat/menggunakan komposisi materi yang berbahaya dan dihentikan masuk ke stadion. Misalnya tidak mengisi gulungan confetti dengan kerikil, kerikil dan semacamnya yang sanggup melukai penonton atau pemain dilapangan dan sebagainya.

Jika Anda ingin berjualan di stadion hindari berjualan produk yang mempunyai volume besar dan berharga mahal(kata mahal disini sanggup berarti subyektif, namun kata mahal disini saya gunakan sebagai pengganti variabel harga yang sekiranya mempunyai nilai diatas rata-rata uang cash yang biasa dibawa suporter ke stadion) menyerupai bass drum, dan semacamnya. Selain repot bagi Anda yang ingin membawanya dalam jumlah banyak kedalam stadion, juga masih belum terlalu banyaknya suporter yang tiba ke stadion dengan membawa uang senilai atau lebih dari nilai produk yang ditawarkan tersebut.

3. Jasa
Selain menjual produk riil, bagi Anda yang kurang mempunyai modal sanggup juga memperoleh sedikit laba yang sanggup Anda gunakan untuk membeli tiket pertandingan-pertandingan Arema selanjutnya. Caranya, tawarkan jasa Anda kepada yang membutuhkan!

Jika Anda mempunyai skill memijat, Anda sanggup membuka lapak kecil diluar stadion khusus bagi para suporter yang mempunyai duduk kasus dalam kebugaran. Biasanya dialami oleh para suporter yang menempuh perjalanan jauh untuk tiba ke Stadion Kanjuruhan. 2000 atau 10000 rupiah perorang tak mengapa, namun jikalau Anda sanggup memperoleh pasien dalam jumlah banyak tak terbayang berapa laba yang didapat. Modalnya pun kecil, keahlian memijat dipadu dengan beberapa perlengkapan sederhana menyerupai minyak kelapa, dll.

Beragam jasa lainnya sanggup Anda coba kepada calon penonton lain. Misalnya bagi yang mempunyai tempat tinggal di akrab stadion sanggup menyewakan sebagian ruang atau halaman rumahnya untuk tempat parkir penonton. Tarif yang dibebankan biasanya sekitar 2000-3000rupiah per motor. Anda sanggup berafiliasi dengan teman/kerabat lainnya jikalau merasa kerepotan untuk bekerja sendiri atau tidak mempunyai calon lahan parkir sementara sobat dan kerabat Anda memilikinya.

Dari sekian jenis jasa yang sanggup Anda tawarkan, saya sendiri tidak merekomendasikan kepada Anda untuk membuka jasa peramal yang khusus ini. Misalnya, ramalan skor pertandingan, ramalan bola yang keluar(out, dsb) untuk dipakai sebagai sarana berjudi. Tak terkecuali jikalau Anda ingin menjadi bandarnya. Ada sekian ratus personel keamanan dalam setiap pertandingan Arema, lebih baik carilah jenis jasa lain yang sanggup Anda tawarkan kepada calon penonton tanpa melanggar hukum yang berlaku.

***

Saya yakin masih banyak lagi referensi wiraswasta yang sanggup dipakai Aremania sebagai sarana menonton pertandingan Arema. Khususnya bagi mereka yang tanpa modal/bermodal minim dan ingin menonton Arema secara legal dengan cara membeli tiket pertandingan.

Jika dulu semasa kecil Anda yang berkantong tipis(atau malah tiada dana sama sekali) sanggup 'menggunakan' belas kasih penonton yang bertiket dengan cara nunut(baca : menumpang masuk ke stadion), sekarang bagi Anda yang sudah pintar balig cukup akal cara yang demikian sangat mustahil untuk dipakai lagi. Salah-salah Anda sendiri yang terusir oleh petugas portir stadion sebelum sukses duduk di dingklik tribun.

Bagi Anda yang ingin berdagang diperlukan untuk mematuhi hukum berlaku, menyerupai tidak menjual minuman keras(memiliki kadar alkohol menyerupai yang disyaratkan oleh undang-undang), petasan dan sejenisnya ataupun menjual barang berbahaya yang sanggup melukai penonton/pemain(senjata tajam), dan sebagainya.

Nahhh, kira-kira apakah ada pendapat atau cara lain dari umak untuk mensiasati hasrat untuk menonton pertandingan Arema dengan modal minim atau tidak mempunyai modal sama sekali secara legal ?
(sumber:memoar anak negeri)

Senin, 12 Maret 2012

Terkini Bom Waktu Pssi ...

Arek Malang Aremania Arema Indonesia Singo Edan Salam Satu Jiwa Terkini Bom Waktu PSSI ...

PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husin dkk kian compang-camping. KLB pun didorong kian kencang dari banyak sekali sisi. Bom waktu segera meledak.

Banyak pihak, termasuk beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, mengungkap itu. Bom waktu berupa Kongres Luar Biasa (KLB) pun menanti kepengurusan PSSI yang belum genap berumur setahun.

Anggota Exco PSSI La Nyalla Matalitti nyaring meneriakkan digelarnya KLB PSSI. Terlebih sesudah hasil rapat Exco PSSI yang digelar 30 September di Hotel Sahid, Jakarta, tidak sesuai impian lebih banyak didominasi klub penerima Indonesia Super League (ISL) dan beberapa anggota Exco PSSI.

"Sekali layar terkembang, pantang surut," tegas La Nyalla menanggapi hasil rapat Exco PSSI yang waktu itu bersikeras memutuskan penerima ISL 2011/2012 berjumlah 24 klub.

La Nyalla tidak sendiri. Banyak lagi pihak bersikap serupa. Sebutlah Roberto Rouw, Tonny Apriliani, dan Erwin Dwi Budiawan. Mereka 1 bunyi dengan Ketua Pengprov Jatim yang telah dilengserkan PSSI itu.

Selain tak setuju dengan jumlah klub penerima ISL 2011/2012, keempat anggota Exco PSSI itu pun tak sependapat dengan keputusan PSSI mengenai
penyelesaian duduk kasus dualisme Persija Jakarta dan Arema.

Untuk masalah Persebaya, mereka lebih sanggup mendapatkan alasannya ialah tuntutan merger yang melibatkan 2 kubu yang berseteru di badan Bajul Ijo dikabulkan PSSI.

'Dosa PSSI' di mata mereka tak berhenti di situ. Pemutihan hukuman 2 klub yang demam isu kemudian tercatat sebagai penerima Liga Primer Indonesia (LPI), Persema Malang dan Persibo Bojonegoro, menambah rentetan catatan jelek PSSI kurun reformasi pimpinan Djohar.

Kini, PSSI pun menanti bom waktu berupa genderang KLB yang dielu-elukan La
Nyala dkk meledak. Lebih-lebih, blunder Djohar dkk kian menumpuk. Bukan cuma pemunculan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) yang merebakkan dualisme kompetisi, tapi juga rentetan masalah lain.

Sebutlah masalah penilihan hak Persipura Jayapura tampil di Liga Champions Asia yang akibatnya dipulihkan CAS, masalah Diego Micheils yang mengangkangi kontrak dengan Pelita Jaya FC, mundurnya instruktur terbaik nasional Rahmad 'RD' Darmawan, pembentukan timnas yang asal-asalan sehingga memuncratkan malu bagi bangsa Indonesia akhir digebuk Bahrain 10-0, dan deretan masalah lain.

Semangat rekonsiliasi yang didengungkan Djohar saat posisinya sudah kian tersudut pun cenderung berkesan slogan semata. Selain, tentu, kisruh sudah kadung meluas dan kompleks. Sudah memakan banyak korban.

Kini, La Nyalla bukan lagi sekadar didukung 18 klub penerima ISL 2011/2012. Ia, bahkan, sudah berjalan di bawah payung Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) pimpinan Tonny Apriliani, yang dibuat lebih dari 2/3 anggota PSSI.

Belakangan, KONI Pusat sebagai induk dari semua organisasi olahraga di Tanah Air (termasuk PSSI) pun sudah menyalakan lampu hijau. KONI Pusat bukan sebatas memahami mengapa 2/3 lebih anggota PSSI melalui KPSI menghendaki KLB, tapi berjanji mengawal hajat yang bakal digelar 17-18 Maret 2012 itu.

KLB yang sekarang didukung banyak pihak alasannya ialah merindukan kondisi persepakbolaan Indonesia segera kondusif, tak ubahnya bom waktu yang disulut PSSI pimpinan Djohar sendiri. Dan, kini, sumbu menuju titik ledak sudah kian pendek.

Nah, mau berkelit ke arah mana lagi, Djohar Arifin dkk ?

(bramono/sportiplus)

Rabu, 29 Februari 2012

Terkini Pssi (Maaf) Sudah Gagal

Tak berlebihan jikalau makin banyak orang nyeletuk begini: urusan PSSI sama rumit dengan urusan negara. Problem bukan menyusut, melainkan malah menumpuk.

Ketika di tingkat negara Presiden Susilo 'SBY' Bambang Yudhoyono tampak gagap memproses reshufle kabinetnya dengan hasil yang kesudahannya juga dicibir, PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husin pun begitu di hampir setiap langkahnya.

Suka atau tidak, sealiran atau tidak dalam pandangan politik, di tingkat rakyat kebanyakan kini kian berpengaruh anggapan kinerja pemerintahan SBY tak lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Kehidupan di negeri ini kini tak jadi lebih terang dari sebelumnya. Sekalipun dibandingkan jauh ke kurun Orba yang penuh kontroversi.

Di lingkup yang jauh lebih kecil, yakni dalam urusan sepakbola, tercermin pula keadaan yang tidak membaik itu. PSSI yang katanya harus direvolusi dan itu sudah terpenuhi lewat KLB 9 Juli 2011 di Solo, bukan saja tak lebih baik dari PSSI sebelumnya, tapi malah kian runyam dan tenggalam dalam banyak problem.

Tak berlebihan jikalau makin banyak orang nyeletuk begini Terkini PSSI (Maaf) Sudah Gagal

Tak ubahnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan SBY yang kian gemuk dan kian tidak taktis cara kerjanya, kelemahan fundamental menyerupai itu pula yang ditunjukkan Djohar dan pasukan reformasinya di PSSI kini.

Cara yang ditempuh PSSI setiap hendak menuntaskan problem kerap justru menyebabkan problem baru. Dari sebegitu banyak problem yang coba diurus sepanjang empat bulan kepemimpinan Djohar, belum ada yang dapat diberesi. Masalah justru melebar, kisruh, dan berbuntut. Ironis.

Lihat saja bagaimana PSSI menihilkan arti sebuah kontrak kerja dalam kasus Alfred Riedl dan antv. Riedl disingkirkan begitu saja dikala sedang bekerja mengasah timnas Pra Piala Dunia 2014. Nasib serupa menimpa antv sebagai pemegang kontrak 10 tahun hak siar kompetisi tertinggi nasional.

Riedl digantikan Wim Rijsbergen yang sama sekali tak terbukti lebih becus. Timnas Indonesia tiga kalah dan (hampir) niscaya gagal ke putaran 4. Sedangkan fungsi antv dialihkan ke MNC Grup dengan tiga stasiun teve nasionalnya. Mutu siaran memang oke, tapi di balik itu ada pihak yang tertindas.

Kinerja PSSI dengan segenap perangkat kerjanya yang tidak clear juga menambah puyeng sejumlah pengelola klub.

Alih-alih memverifikasi kontestan jelang kompetisi demam isu 2011/2012, ujungnya malah konflik yang kian meruncing di internal Arema Indonesia, Persebaya Surabaya, dan yang terparah menimpa Persija Jakarta.

Itu sebab PSSI dan perangkat kerjanya, termasuk Komite Eksekutif (Exco) yang belakangan terbelah-belah, menunjuk pihak yang dinilai sah sebagai pengelola klub condong menurut selera, kedekatan atau kepentingan tertentu.

Tak kalah konyol yaitu keputusan mengangkat Saleh Ismail Mukadar sebagai Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI. Konyol, sebab dikala diangkat Saleh masih dalam status diskors.

Saleh terkena hukuman tiga tahun tak boleh aktif mengurusi sepakbola dari Komisi Disiplin PSSI yang berlaku per 24 September 2010. Artinya, hukuman atas diri Saleh mestinya gres berakhir 24 September 2013. Selain itu, status Saleh juga bermasalah di Pengprov PSSI Jatim. PSSI seolah tutup mata terhadap semua itu.

Cukup? Belum. Di dikala vital dan krusial jelang bergulirnya kompetisi yang awalya hendak dimulai per 8 Oktober 2011, PSSI di tangan Djohar dkk malah kian gegabah. Kian kentara tak dapat bekerja lebih baik dari kabinet sebelumnya.

PSSI kabinet reformasi kian masa terbelakang dengan aturan main dan janji yang dicapai dalam kongres yang punya kekuatan aturan dari sisi etika. Dan, kian mempertegas kdberadaannya di balik maksud-maksud tertentu yang selama ini digunjingkan.

Semua itu dengan gampang ditangkap siapapun yang masih kritis dan berniat murni menyehatkan sepakbola nasional. Sebab, PSSI dengan gagah dan penuh percaya diri memplot kontestan kompetisi utama dari 18 jadi 24. Yang enam yaitu 'titipan' dari Liga Primer Indonesia (LPI).

Parahnya, dua di antara enam klub yang dipaksakan masuk itu juga mengusung status terhukum jawaban membelot ke LPI ketika PSSI masih dipimpin Nurdin Halid. Sanksi terhadap PSM Makassar dan Persibo Bojonegoro dijatuhkan dalam Kongkres Bali. Jika ingin dianulir, sesuai statuta, mestinya ya lewat kongres pula.

Kompetisi yang semula dinamai Liga Prima Indonesia, kemudian direvisi jadi Indonesia Premier League (IPL) dan akan berjalan di bawah kendali PT Liga Prima (LPI) Sportindo itu kesudahannya tak terang sampai kini.

Managers meeting, Kamis (13/10) di Hotel Ambhara, Jakarta, deadlock. Ke-24 klub terpecah dua: 14 membelot dan tak sudi berkompetisi di bawah naungan PT LPI, 10 sisanya manut-manut saja sebab sebagian memang eks LPI yang ilegal itu.

Yang sempat digulirkan gres tabrak Persib Bandung kontra Semen Padang di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (15/10). Entah, skor 1-1 dikala itu mau diapakan PSSI (dianggap ekshibisi atau masuk pdnilaian klasemen IPL), yang terang kompetisi resminya masih tanda tanya.

Dari aktivitas semula 8 Oktober, geser ke 9 Oktober, kemudian ke 15 Oktober dan seterusnya, belakangan malah disebut IPL gres dilanjut sehabis SEA Games XXVI yang berakhir 21 November 2011.

Bagaimana pun nantinya IPL itu dijalankan, dari kerumitan soal kompetisi ini saja PSSI lagi-lagi memang terkesan belum puas melampiaskan misi tebas ganjal terhadap apapun sisa kerja PSSI kurun sebelumnya.

Itu, tak pelak, malah menciptakan PSSI kabinet reformasi tertatih-tatih, penuh blunder, dan kesudahannya terjebak dalam kebingungan.

Itu terlihat dari banyak hal. Ya, hal yang tadinya jalan dan sederhana, di tangan kepengurusan yang kini malah buntu dan jadi ribet. Deadlock soal kompetisi yaitu fakta paling mencolok.

Bayangkan jikalau IPL jalan dengan pemaksaan diikuti 24 klub, aktivitas panjangnya niscaya bakal menabrak kalender internasional. Setiap klub juga mumet memikirkan risiko dari aktivitas superketat dan bertumpukan.

Jadi, selepas melewati 100 hari kerja kabinet Djohar dkk, PSSI memang menyerupai mencerminkan KIB. Serba tumpul dan rumit di tengah problem yang kian menumpuk. Sama sekali belum ada buah karya yang lebih baik dibandingkan seburuk-buruknya kabinet sebelumnya.

Sampai di sini, maaf, PSSI kabinet reformasi tak ubahnya KIB: melulu berlumur kegagalan. Sepakbola negeri ini bakal kian terbenam jikalau mereka yang kini mengendalikan gerak PSSI tak sudi membuka diri untuk segera sadar dan berbenah.

(bramono-sportiplus)

Rabu, 04 Januari 2012

Terkini Sepakbola Indonesia - Kompetisi Acakadut

Makin renta usianya, PSSI makin kehilangan daya. Paling mencolok: kompetisinya kini acakadut. Di keabadian sana, Soeratin Sosrosoegondo pun menangis. Salah seorang pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama yang sudah usang mangkat itu niscaya duka melihat iklim sepakbola di Tanah Air kini.

PSSI yang pada 1930 dikibarkan sebagai serpihan dari cara mengobarkan semangat persatuan, makin kemari malah makin penuh riak dan perpecahan. Makin kisruh. Melenceng jauh dari impian awal yang dulu dipancangkan.

Organisasi PSSI tak lagi murni diputar dengan tujuan mulia mirip sedia kala, yakni membangun harkat dan martabat bangsa secara bersama lewat sepakbola. Yang ada kini yaitu PSSI penuh basa-basi bicara regulasi karena kepentingan yang sudah terkisi-kisi.

Menggulingkan kepengurusan sebelumnya dengan dalih hendak mereformasi semoga PSSI dan segenap aktivitasnya jadi lebih benar dan maju, ternyata yang terpampang justru sebaliknya. PSSI, jadwal kerja, dan pengelolaannya kini berjalan mundur. Set back.

Ironisnya, ketika begitu deras desakan untuk melakukan kembali hal-hal yang sebetulnya sedang berkembang dan tinggal diperbaiki, terutama terkait keputusan bersama dalam Kongres Bali, semua ditanggapi dengan agresi tutup mata, tutup telinga.

PSSI, di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin plus tim yang katanya mengusung reformasi, tetap digulirkan dengan caranya sendiri. Bahkan, koreksi dari sebagian anggota Komite Eksekutif (Exco) yang sesungguhnya punya tugas strategis, pun tak digubris.

Akibat paling menohok dari semua itu yaitu kegagapan dalal menggelar kompetisi. Sudah terperinci banyak pengelola klub menolak kehadiran tubuh perjuangan gres sebagai payung kompetisi demam isu 2011/2012, toh para pentolan di PSSI bergeming.

Tak cukup hingga di situ. PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), tubuh perjuangan gres bentukan PSSI yang tak diterima keberadaannya oleh klub-klub sarat pengalaman dan punya rekam jejak mumpuni di lingkup persepakbolaan nasional, kemudian malah memunculkan gagasan kontroversial.

Kontroversi itu meliputi tiga hal: titel kompetisi berubah dari Indonesia Super League (ISL) jadi Indonesia Premier League (IPL), jumlah kontestan dibengkakan dari 18 jadi 24 klub, dan memaksakan sejumlah klub 'antah berantah' diikutkan.

Sebutlah perubahan titel kompetisi tak terlalu prinsip. Tapi, pembengkakan jumlah kontestan plus penyertaan klub eks IPL yang kesudahannya dibekukan karena memang tak genah?

 Salah seorang pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama yang sudah usang mangkat itu niscaya Terkini Sepakbola Indonesia - Kompetisi Acakadut

Dua faktor itu ditambah sengketa atas keberadaan PT LPIS, tak pelak, jadi sumbu peledak perpecahan yang makin dahsyat di tubuh PSSI. Empat anggota Exco pun nekat menempuh jalan sendiri. Mereka melebur bersama sederet klub yang cabut dari IPL 2011/2012 dan menentukan terjun di ISL yang dikelola PT LI.

Pasti aneh, memang, kalau kompetisi level tertinggi di Tanah Air hingga melibatkan 24 klub. Kompetisi dengan jumlah kontestan terbanyak di dunia itu, saking panjanganya, bakal menabrak jadwal internasional. Yang juga sadis, dalam sepekan klub-klub harus berjibaku di 2-3 laga beruntun.

Sungguh tak masuk akal, tentu. Lebih tak masuk nalar ketika kompetisi itu juga diikuti klub yang muncul bukan dari jenjang semestinya. Mengaku emoh ikut jadi bodoh, empat anggota Exco dan para pengelola klub yang berkiblat ke ISL bersikeras menepi. Mereka mengedepankan dua alasan pokok: melanjutkan keputusan Kongres PSSI di Bali dan mengutamakan kompetisi berkualitas.

Kini, akhirnya, mencuatlah kompetisi acakadut itu. PT LPIS menggulirkan IPL dengan jumlah kontestan yang menciut, bahkan tak hingga 15 klub, dan tertatih-tatih meski sanggup restu PSSI.

Di luar jalur PSSI, meski sudah dicap ilegal, PT LI menggelar ISL 2011/2012 dengan jumlah dan kualitas kontestan lebih mumpuni. Mayoritas yaitu klub yang berkiprah di demam isu sebelumnya.

Keputusan Persib Bandung dan Persipura Jayapura terjun di ISL layak disorot khusus. Persib, yang sempat memainkan laga pembuka IPL kontra Semen Padang pada Oktober, berpaling karena bunyi mereka tak didengar. Persipura, bahkan sempat merelakan tiketnya ke Liga Champion Asia (LCA) hangus dan mantap berkiprah di ISL.

Kedua klub menuntut hal yang sama: kompetisi hanya diikuti maksimal 18 kontestan dan kejelasan asal muasal kontestan demi menjaga kualitas. Karena tuntutan itu tak dipedulikan, keduanya pun beralih ke ISL.

Joko Driyono, CEO PT LI, dan klub-klub kontestan ISL sebetulnya sadar kalau ujung dari kompetisi yang mereka jalankan terancam tak jelas. Itu karena ISL dianggap ilegal. Juara ISL nanti belum tentu sanggup berkiprah di kompetisi internasional resmi di jalur AFC.

Sampai di situ, tentu saja PSSI dan PT LPIS di atas angin. Secara struktural, mereka memang berada di jalur AFC dan FIFA. Itu sebabnya, terkait tiket LCA yang dilepas Persipura, mereka impulsif bergerak mencari klub pengganti untuk diusulkan kepada AFC.

Secara struktural pula, PSSI dan segenap perangkat kerjanya kini lagi berkutat menyiapkan hukuman bagi klub-klub yang membelot ke ISL. Anggota Exco yang dianggap mbeling juga sedang diproses Komite Etik PSSI. Lalu, Joko dengan PT LI-nya pun tengah diburu.

Tak terbantahkan, kebenaran secara struktural itu bersifat menempel dan valid. Sebab, garisnya memang sudah begitu dari sananya. PSSI secara adikara resmi berada di bawah AFC dan FIFA. Meski begitu, apalah gunanya benar secara struktural tapi jelek dalam implementasi?

Kenapa di negeri ini, termasuk dalam mengurus PSSI, masih saja menihilkan hal-hal baik yang dicapai pengelola di era sebelumnya hanya karena ketidakcocokan dan ketidaksukaan? Kenapa yang disikapi bukan substansi inti, melainkan soal cara atau sekadar pemilahan situ siapa dan sini siapa?

Kalaulah masih tersisa kejujuran dan kearifan, substansi inti yang dihasilkan Kongres PSSI di Bali sesungguhnya jauh lebih layak dilanjutkan ketimbang mengada-ada mirip sekarang. Yang diharapkan yaitu perbaikan menuju penyempurnaan. Bukan dibongkar habis, apalagi dengan desakan emosi dan kepentingan sepihak.

Kalaulah masih tersisa kejujuran dan kearifan, meski butuh kekuatan mental dan moral, keadaan PSSI berikut kinerjanya ketika ini harus diakui sama sekali belum sanggup lebih baik ketimbang sebelumnya. Fakta yang terhampar di balik semangat mereformasi PSSI masih menyerupai jauh pagang dari api.

Rekonsiliasi, tak pelak, patut dijadikan pilihan bijak dan taktis. Sebagaimana dicita-citakan Soeratin dkk dulu, bersama membangun kekuatan sebaiknya diyakini sebagai jalan terbaik.

Yakinlah di negeri ini masih tersimpan energi dan potensi. Di tanah Papua, misalnya, bertebaran talenta alam yang kalau dibina dengan sempurna niscaya tumbuh jadi kekuatan dahsyat. Dan, semua itu akan efektif kalau digali dan diasah bersama.

Kebersamaan yang nrimo itu bukan cuma demi mengangkat harkat dan martabat bangsa, tapi juga menjauhkan diri dari kompetisi acakadut yang kini membelit.

(bramono-sportiplus)