This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Terkini Selamat Ulang Tahun Perak Arema Indonesia ...!!!

Hari ini, 11 Agustus, skuad Arema Indonesia genap berusia 25 tahun. Tim pujian Arek Malang ini sudah semakin dewasa. Singo Edan harus bisa menggapai prestasi yang lebih baik lagi kedepannya. Paling tidak, itu ibarat yang menjadi impian dan keinginan dari seluruh penggawa Arema, Aremania dan arek-arek Malang dimanapun berada.

Sepanjang berdiri, Arema pernah menyabet rentetan thropy juara, diawali dari Piala Galatama 1992, kompetisi Galatama 1992-1993, Liga Divisi I 2004, Piala Indonesia 2005,2006 sampai Liga Super Indonesia 2009-2010. Selain itu, untuk tim U-18, tercatat pernah meraih juara Piala Suratin atau Liga Remaja 2007.

 Tim pujian Arek Malang ini sudah semakin remaja Terkini Selamat Ulang Tahun Perak Arema Indonesia ...!!!
Butuh tahapan bagi tim yang awal lahirnya menggunakan nama Arema Malang ini untuk bisa menjadi tim profesional sampai kini. Lika-liku, suka senang dan usaha keras selalu membumbui perjalanan tim. Entah itu buah dari duduk masalah krisis keuangan atau lainnya. Hanya saja, semua itu menjadi pesan yang tersirat dan pelecut semangat bagi Arema untuk tetap eksis dan menjadi salah satu tim sepakbola yang disegani.

Jika menengok dongeng diawal berdiri, Arema yang lahir di tahun 1987 sudah mulai menggebrak ketika usianya gres menginjak lima tahun. Gelar juara kompetisi Galatama 1992-1993 diraihnya sesudah menjadi yang terbaik di kompetisi elit yang diikuti oleh tim-tim profesional, alias tim non perserikatan. Ongis Nade bisa menyisikan tim-tim langganan juara ibarat Pelita Jaya dan Arseto Solo.

Itulah gelar pertama yang diraih tim reinkarnasi dari Armada 86 yang tidak lepas dari tugas Derek, warga jalan Karimunjawa 1, kelurahan Kasin kota Malang pada masa 1980 an. Meski ketika mewakili Indonesia di ajang kejuaraan klub Asia 1992-1993, hasil penampilan Mickey Tata dkk kurang terlalu memuaskan. Namun, dari trophy itu, Arema yang sudah dipegang Lucky Acub Zenal mulai semakin disegani sekalipun krisis dana kolam menjadi duduk masalah klasiknya.

Sayang, usai juara kompetisi Galatama, puasa gelar terjadi. Namun, Arema bisa menembus babak delapan besar Ligina, kompetisi hasil peleburan antara Galatama dengan perserikatan. Puasa itu gres terhenti usai Singo Edan menjadi juara Liga Divisi I 2004. Prestasi itu sekaligus mengantarkan Arema naik kasta ke Divisi Utama sesudah sempat degradasi di penghujung Ligina 2003.

Aremania dan Arek Malang berpesta menyambut kemenangan tim yang kala itu gres 1,5 tahun dipegang PT Bentoel Prima Tbk, sesudah Lucky, pengelola usang menjual Arema buntut krisis financial. Bersama perusahaan rokok asal Malang ini, Singo Edan menemukan kejayaannya.

Dukungan dana berlimpah dari Bentoel juga menyebabkan Arema sebagai tim kuat. Meski sempat kerap kali ‘dikerjai’ PSSI, dua gelar juara bisa diboyong tim dalam dua tahun beruntun, yakni Piala Indonesia 2005 dan 2006. Sayang, masuknya pemilik gres di badan Bentoel, menciptakan Bentoel harus melepaskan Arema di tahun 2009.

Tim ini pun dikelola ramai-ramai oleh wong-wong Ngalam, yang tercatat mulai dari pengusaha, pejabat kawasan dan investor dengan ditandai pergantian nama menjadi Arema Indonesia. Bukan Arema jikalau tak bersemangat. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap bisa mencatatkan prestasi ciamik dengan sukses menjadi jawara Liga Super Indonesia, kasta tertinggi di Indonesia, dari sebuah perjalanan kompetisi penuh.

Sederetan throphy itu yang sekarang melekat di badan Arema harus kembali diraih seiring usianya yang sudah 25 tahun ibarat yang menjadi impian dan keinginan pendukungnya.

“Semoga Arema sukses dan senang selalu, Arema bisa jadi satu untuk Aremania bisa senang lagi, biar Tuhan bisa membantu Arema kedepan, menjadi juara lagi,” ungkap Claudio de Jesus, mantan stopper Arema yang ikut membawa Arema juara Divisi I dan Piala Indonesia 2005.

“Saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Arema yang ke 25, biar sukses dan terus eksis. Kita tentunya berharap Arema bisa terus berprestasi dan kembali raih gelar juara ibarat sebelum-sebelumnya, alasannya ialah itu jadi pujian kita bersama,” imbuh Mahdi ‘Meok’ Haris, salah satu legnda Arema.
(poy/bua)

Kamis, 17 Mei 2012

Terkini Arema Indonesia Sikat Kawan Kukar 5-3 , Thanks To Aremania ... !

Aremania kembali memperlihatkan loyalitasnya pada tim kesayangannya. Pendukung setia tim Singo Edan tersebut memenuhi Stadion Kanjuruhan Arema Indonesia melawan Mitra Kukar di Stadion Kanjuruhan (17/5) sore ini. Tercatat oleh Panpel penonton yang hadir di Stadion Kanjuruhan berjumlah 33.725. Jumlah tersebut membuat nyaris tak ada sisa kawasan duduk di tribun ekonomi, VIP dan VVIP.

Mengenakan atribut kebesarannya yang berwarna biru, Aremania tak kenal lelah memperlihatkan motivasi pada Muhmammad Ridhuan dkk sepanjang pertandingan. Selain tubruk yang menarik untuk disimak, Aremania juga menyuguhkan kreativitasnya dengan membawa balon berwarna biru, sehingga membuat suasana stadion menjadi meriah.

Aremania kembali memperlihatkan loyalitasnya pada tim kesayangannya Terkini Arema Indonesia Sikat Mitra Kukar 5-3 , Thanks to Aremania ... !
Media officer Arema Indonesia, Sudarmaji, mengucapkan terima kasih atas kedatangan Aremania yang memenuhi Stadion Kanjuruhan. Menurut Sudarmaji kedatangan Aremania ini sangat berarti dalam memperlihatkan motivasi kepada pemain untuk lebih bersemangat dalam menjalani pertandingan apalagi tim Singo Edan ketika ini ditargetkan untuk menjauhi zona degradasi.

“Terimakasih untuk Aremania yang hari ini sangat luar biasa dalam memperlihatkan dukungan. Dukungan Aremania ini sangat berarti untuk memotivasi pemain biar lebih bersemangat. Terlebih ketika ini Arema Indonesia dituntut untuk bisa menjauhi zona degradasi,” ujarnya disela-sela pertandingan.

Semenatara itu dalam pertandingan Arema Indonesia kesannya berhasil menaklukkan tamunya, Mitra Kukar, dengan skor 5-3. Dengan hasil ini, Arema memang tetap di posisi 15 namun dengan koleksi 26 poin. Jumlah ini menyamai poin Persisam Samarinda dan PSMS Medan yang berada di atas mereka. Arema hanya kalah selisih Goal.

Sejak peluit dibunyikan, tempo pertandingan pribadi berjalan cepat. Babak pertama pun berlangsung seru dan membuat drama enam Goal. Mitra Kukar mengejutkan tuan rumah terlebih dahulu sehabis Gustafe Bahoken berhasil menjebol gawang Arema ketika tubruk gres berjalan lima menit. Bek abnormal tersebut memanfaatkan bola muntah hasil tendangan bebas Hamka Hamzah yang ditepis oleh Kurnia Meiga.

Namun, keunggulan til tamu tidak bertahan usang sehabis hanya dalam tujuh menit, Arema berhasil membalikkan kedudukan menjadi 2-1. Pada menit ke-10, Dendy Santoso berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui Goal yang dicetak melalui tendangan first time di kotak penalti, dan dua menit kemudian, Muhammad Ridhuan membuat Arema berbalik unggul memanfaatkan kombinasi dari tendangan bebas.

Pada menit ke-31, Arema berhasil memperbesar keunggulan sehabis Herman Dzumafo bisa memanfaatkan kesalahan lini belakang Mitra Kukar dan membuat kedudukan menjadi 3-1. Namun, Mitra berhasil memanfaatkan kelengahan Arema, satu menit sehabis Goal Dzumafo, Zulham Zamrun berhasil memperkecil kedudukan menjadi 3-2.

Babak pertama, tampak akan usai dengan keunggulan Arema, tetapi Mitra Kukar berhasil memanfaatkan peluang terakhir mereka. Berawal dari tendangan bebas Ahmad Bustomi, bek Arema Munhar mencoba melaksanakan penghalauan, sayang bola malah masuk ke gawang sendiri sehingga babak pertama ditutup dengan skor imbang 3-3.

Aremania kembali memperlihatkan loyalitasnya pada tim kesayangannya Terkini Arema Indonesia Sikat Mitra Kukar 5-3 , Thanks to Aremania ... !
Di paruh kedua, Arema yang tak mau aib di depan mendukung sendiri terus menerapkan permain agresif. Gol keempat pun tiba lewat tandukan Seme Patrick pada menit 67. Skor berkembang menjadi 4-3.

Selang dua menit, kembali Singo Edan menambah keunggulan mereka melalui Goal pemain pengganti, Arif Ariyanto. Arif sukses mematahkan jebakan offside Mitra Kukar dan mengecoh kiper Hendro Kartiko. Skor 5-3 untuk keunggulan Arema bertahan sampai tubruk berakhir.

Kemenangan Arema tersebut tidak membuat posisi mereka di klasemen naik, namun kemenangan tersebut menjadi modal kasatmata sebelum melaksanakan tur Sumatera ke markas PSAP Sigli dan PSMS Medan. Bagi Mitra Kukar, kekalahan ini memaku mereka di peringkat sembilan dengan koleksi 31 poin.

Rabu, 18 April 2012

Terkini Kreativitas Aremania Tidak Pernah Mati

 Matinya nurani PSSI yang tidak menentukan Arema Indonesia yang berlaga di ISL sebagai Arema  Terkini Kreativitas Aremania Tidak Pernah Mati

Matinya nurani PSSI yang tidak menentukan Arema Indonesia yang berlaga di ISL sebagai Arema yang sah tidak menciptakan Aremania mati kreativitas. Berbagai macam cara kreatif sudah ditempuh meski sebagian Aremania sudah tidak setia lagi. Hal ini terbukti ketika Stadion di awal awal liga tidak se semarak di tahun-tahun sebelum. Karena itu, inilah ekspresi dominan paling sepi di stadion Kanjuruhan.

Well, lupakan paruh musim, saatnya bangkit. Sebagai euforia yang mungkin beberapa nawak belum tahu, berikut ini ialah sebagian video yang dengan sangat manis direkam dan diupload oleh nawak-nawak Aremania.


PAPER RAIN
Secara garis besar PAPER RAIN diterjemahkan sebagai hujan kertas. Ya hujan kertas, masih gundah silahkan disimak videonya.




AREMANIA SPARKLES
Ribuan kembang api yang disulut oleh Aremania menjadi agresi yang sangat luar biasa buat ekspresi dominan ini.




AREMANIA INFERNO
Konsepnya ialah hanflare yang dalam rencananya akan membentuk goresan pena AREMA, namun tidak semua planning insan dapat berhasil alasannya ialah niscaya ada kuasa yang diatas. Tetapi meski 'gagal' tetapi agresi mengkremasi tribun ini terlihat keren.




(sumber:wearemania.net)

Senin, 19 Maret 2012

Terkini Sudahlah Djohar... !!!

 Pernyataan itu dilontarkan Dhimam Abror Terkini Sudahlah Djohar... !!!

Tak becus urus sepakbola, Djohar Arifin Husin layak lengser. Pernyataan itu dilontarkan Dhimam Abror, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Pusat.

Lewat Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN) yang digelar Forum Pengurus Provinsi (FPP) pada 18 Desember 2011, lahir mosi tidak percaya atas kepemimpinan Djohar sebagai Ketua Umum PSSI beserta para pengurusnya yang terpilih dalam Kongres Luar Biasa (KLB) 9 Juli 2011 di Solo.

Djohar dinilai telah merusak sepakbola Indonesia dengan hukum dan langkahnya yang berseberangan dengan Statuta PSSI dan hukum lain yang berlaku, termasuk keputusan Kongres PSSI.

Menilai kepemimpinan Djohar dkk yang sekarang telah lengser lewat bergulirnya KLB 18 Maret 2012 sesuai harapan 2/3 anggota PSSI, Dhimam yang juga Ketua Harian KONI Jawa Timur setuju Djohar dkk memang harus turun takhta dari dingklik tertinggi kepengurusan PSSI.

"Tidak usah bicara Statuta PSSI, lihat info olahraga, khususnya sepakbola, semua niscaya setuju menilai kalau Djohar dkk memang tidak layak memimpin PSSI," tegas Dhimam.

"Cara mereka mengelola sepakbola sungguh di luar dugaan. Harapan KLB 9 Juli 2011 melahirkan kepengurusan PSSI yang lebih baik ternyata tidak dijawab Djohar dkk dengan baik. Saya kira mereka memang tidak punya keahlian mengelola sepakbola Indonesia, khususnya PSSI," lanjut Dhimam.

Bukan tanpa dasar Dhimam menyatakan itu dengan melihat agresi sapu higienis Djohar dkk dalam memimpin PSSI. Ya, para pengurus dan agenda yang sudah ada dan berjalan pada PSSI terdahulu diubah dan diganti dengan agenda baru. Tak hanya itu. Perubahan itu pun tidak dilakukan dengan cara dan proses yang baik dan benar.

"Salah satunya ialah agresi sapu higienis Djohar dalam kepengurusan PSSI. Pengurus dan agenda yang bahwasanya sudah berjalan baik malah diubah. Parahnya, itu semua dilakukan dengan cara yang tidak sempurna dan tidak taat aturan, khususnya Statuta PSSI," pungkas Dhimam. (sportiplus)

Senin, 12 Maret 2012

Terkini Bom Waktu Pssi ...

Arek Malang Aremania Arema Indonesia Singo Edan Salam Satu Jiwa Terkini Bom Waktu PSSI ...

PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husin dkk kian compang-camping. KLB pun didorong kian kencang dari banyak sekali sisi. Bom waktu segera meledak.

Banyak pihak, termasuk beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, mengungkap itu. Bom waktu berupa Kongres Luar Biasa (KLB) pun menanti kepengurusan PSSI yang belum genap berumur setahun.

Anggota Exco PSSI La Nyalla Matalitti nyaring meneriakkan digelarnya KLB PSSI. Terlebih sesudah hasil rapat Exco PSSI yang digelar 30 September di Hotel Sahid, Jakarta, tidak sesuai impian lebih banyak didominasi klub penerima Indonesia Super League (ISL) dan beberapa anggota Exco PSSI.

"Sekali layar terkembang, pantang surut," tegas La Nyalla menanggapi hasil rapat Exco PSSI yang waktu itu bersikeras memutuskan penerima ISL 2011/2012 berjumlah 24 klub.

La Nyalla tidak sendiri. Banyak lagi pihak bersikap serupa. Sebutlah Roberto Rouw, Tonny Apriliani, dan Erwin Dwi Budiawan. Mereka 1 bunyi dengan Ketua Pengprov Jatim yang telah dilengserkan PSSI itu.

Selain tak setuju dengan jumlah klub penerima ISL 2011/2012, keempat anggota Exco PSSI itu pun tak sependapat dengan keputusan PSSI mengenai
penyelesaian duduk kasus dualisme Persija Jakarta dan Arema.

Untuk masalah Persebaya, mereka lebih sanggup mendapatkan alasannya ialah tuntutan merger yang melibatkan 2 kubu yang berseteru di badan Bajul Ijo dikabulkan PSSI.

'Dosa PSSI' di mata mereka tak berhenti di situ. Pemutihan hukuman 2 klub yang demam isu kemudian tercatat sebagai penerima Liga Primer Indonesia (LPI), Persema Malang dan Persibo Bojonegoro, menambah rentetan catatan jelek PSSI kurun reformasi pimpinan Djohar.

Kini, PSSI pun menanti bom waktu berupa genderang KLB yang dielu-elukan La
Nyala dkk meledak. Lebih-lebih, blunder Djohar dkk kian menumpuk. Bukan cuma pemunculan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) yang merebakkan dualisme kompetisi, tapi juga rentetan masalah lain.

Sebutlah masalah penilihan hak Persipura Jayapura tampil di Liga Champions Asia yang akibatnya dipulihkan CAS, masalah Diego Micheils yang mengangkangi kontrak dengan Pelita Jaya FC, mundurnya instruktur terbaik nasional Rahmad 'RD' Darmawan, pembentukan timnas yang asal-asalan sehingga memuncratkan malu bagi bangsa Indonesia akhir digebuk Bahrain 10-0, dan deretan masalah lain.

Semangat rekonsiliasi yang didengungkan Djohar saat posisinya sudah kian tersudut pun cenderung berkesan slogan semata. Selain, tentu, kisruh sudah kadung meluas dan kompleks. Sudah memakan banyak korban.

Kini, La Nyalla bukan lagi sekadar didukung 18 klub penerima ISL 2011/2012. Ia, bahkan, sudah berjalan di bawah payung Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) pimpinan Tonny Apriliani, yang dibuat lebih dari 2/3 anggota PSSI.

Belakangan, KONI Pusat sebagai induk dari semua organisasi olahraga di Tanah Air (termasuk PSSI) pun sudah menyalakan lampu hijau. KONI Pusat bukan sebatas memahami mengapa 2/3 lebih anggota PSSI melalui KPSI menghendaki KLB, tapi berjanji mengawal hajat yang bakal digelar 17-18 Maret 2012 itu.

KLB yang sekarang didukung banyak pihak alasannya ialah merindukan kondisi persepakbolaan Indonesia segera kondusif, tak ubahnya bom waktu yang disulut PSSI pimpinan Djohar sendiri. Dan, kini, sumbu menuju titik ledak sudah kian pendek.

Nah, mau berkelit ke arah mana lagi, Djohar Arifin dkk ?

(bramono/sportiplus)

Rabu, 29 Februari 2012

Terkini Pssi (Maaf) Sudah Gagal

Tak berlebihan jikalau makin banyak orang nyeletuk begini: urusan PSSI sama rumit dengan urusan negara. Problem bukan menyusut, melainkan malah menumpuk.

Ketika di tingkat negara Presiden Susilo 'SBY' Bambang Yudhoyono tampak gagap memproses reshufle kabinetnya dengan hasil yang kesudahannya juga dicibir, PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husin pun begitu di hampir setiap langkahnya.

Suka atau tidak, sealiran atau tidak dalam pandangan politik, di tingkat rakyat kebanyakan kini kian berpengaruh anggapan kinerja pemerintahan SBY tak lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Kehidupan di negeri ini kini tak jadi lebih terang dari sebelumnya. Sekalipun dibandingkan jauh ke kurun Orba yang penuh kontroversi.

Di lingkup yang jauh lebih kecil, yakni dalam urusan sepakbola, tercermin pula keadaan yang tidak membaik itu. PSSI yang katanya harus direvolusi dan itu sudah terpenuhi lewat KLB 9 Juli 2011 di Solo, bukan saja tak lebih baik dari PSSI sebelumnya, tapi malah kian runyam dan tenggalam dalam banyak problem.

Tak berlebihan jikalau makin banyak orang nyeletuk begini Terkini PSSI (Maaf) Sudah Gagal

Tak ubahnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan SBY yang kian gemuk dan kian tidak taktis cara kerjanya, kelemahan fundamental menyerupai itu pula yang ditunjukkan Djohar dan pasukan reformasinya di PSSI kini.

Cara yang ditempuh PSSI setiap hendak menuntaskan problem kerap justru menyebabkan problem baru. Dari sebegitu banyak problem yang coba diurus sepanjang empat bulan kepemimpinan Djohar, belum ada yang dapat diberesi. Masalah justru melebar, kisruh, dan berbuntut. Ironis.

Lihat saja bagaimana PSSI menihilkan arti sebuah kontrak kerja dalam kasus Alfred Riedl dan antv. Riedl disingkirkan begitu saja dikala sedang bekerja mengasah timnas Pra Piala Dunia 2014. Nasib serupa menimpa antv sebagai pemegang kontrak 10 tahun hak siar kompetisi tertinggi nasional.

Riedl digantikan Wim Rijsbergen yang sama sekali tak terbukti lebih becus. Timnas Indonesia tiga kalah dan (hampir) niscaya gagal ke putaran 4. Sedangkan fungsi antv dialihkan ke MNC Grup dengan tiga stasiun teve nasionalnya. Mutu siaran memang oke, tapi di balik itu ada pihak yang tertindas.

Kinerja PSSI dengan segenap perangkat kerjanya yang tidak clear juga menambah puyeng sejumlah pengelola klub.

Alih-alih memverifikasi kontestan jelang kompetisi demam isu 2011/2012, ujungnya malah konflik yang kian meruncing di internal Arema Indonesia, Persebaya Surabaya, dan yang terparah menimpa Persija Jakarta.

Itu sebab PSSI dan perangkat kerjanya, termasuk Komite Eksekutif (Exco) yang belakangan terbelah-belah, menunjuk pihak yang dinilai sah sebagai pengelola klub condong menurut selera, kedekatan atau kepentingan tertentu.

Tak kalah konyol yaitu keputusan mengangkat Saleh Ismail Mukadar sebagai Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI. Konyol, sebab dikala diangkat Saleh masih dalam status diskors.

Saleh terkena hukuman tiga tahun tak boleh aktif mengurusi sepakbola dari Komisi Disiplin PSSI yang berlaku per 24 September 2010. Artinya, hukuman atas diri Saleh mestinya gres berakhir 24 September 2013. Selain itu, status Saleh juga bermasalah di Pengprov PSSI Jatim. PSSI seolah tutup mata terhadap semua itu.

Cukup? Belum. Di dikala vital dan krusial jelang bergulirnya kompetisi yang awalya hendak dimulai per 8 Oktober 2011, PSSI di tangan Djohar dkk malah kian gegabah. Kian kentara tak dapat bekerja lebih baik dari kabinet sebelumnya.

PSSI kabinet reformasi kian masa terbelakang dengan aturan main dan janji yang dicapai dalam kongres yang punya kekuatan aturan dari sisi etika. Dan, kian mempertegas kdberadaannya di balik maksud-maksud tertentu yang selama ini digunjingkan.

Semua itu dengan gampang ditangkap siapapun yang masih kritis dan berniat murni menyehatkan sepakbola nasional. Sebab, PSSI dengan gagah dan penuh percaya diri memplot kontestan kompetisi utama dari 18 jadi 24. Yang enam yaitu 'titipan' dari Liga Primer Indonesia (LPI).

Parahnya, dua di antara enam klub yang dipaksakan masuk itu juga mengusung status terhukum jawaban membelot ke LPI ketika PSSI masih dipimpin Nurdin Halid. Sanksi terhadap PSM Makassar dan Persibo Bojonegoro dijatuhkan dalam Kongkres Bali. Jika ingin dianulir, sesuai statuta, mestinya ya lewat kongres pula.

Kompetisi yang semula dinamai Liga Prima Indonesia, kemudian direvisi jadi Indonesia Premier League (IPL) dan akan berjalan di bawah kendali PT Liga Prima (LPI) Sportindo itu kesudahannya tak terang sampai kini.

Managers meeting, Kamis (13/10) di Hotel Ambhara, Jakarta, deadlock. Ke-24 klub terpecah dua: 14 membelot dan tak sudi berkompetisi di bawah naungan PT LPI, 10 sisanya manut-manut saja sebab sebagian memang eks LPI yang ilegal itu.

Yang sempat digulirkan gres tabrak Persib Bandung kontra Semen Padang di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (15/10). Entah, skor 1-1 dikala itu mau diapakan PSSI (dianggap ekshibisi atau masuk pdnilaian klasemen IPL), yang terang kompetisi resminya masih tanda tanya.

Dari aktivitas semula 8 Oktober, geser ke 9 Oktober, kemudian ke 15 Oktober dan seterusnya, belakangan malah disebut IPL gres dilanjut sehabis SEA Games XXVI yang berakhir 21 November 2011.

Bagaimana pun nantinya IPL itu dijalankan, dari kerumitan soal kompetisi ini saja PSSI lagi-lagi memang terkesan belum puas melampiaskan misi tebas ganjal terhadap apapun sisa kerja PSSI kurun sebelumnya.

Itu, tak pelak, malah menciptakan PSSI kabinet reformasi tertatih-tatih, penuh blunder, dan kesudahannya terjebak dalam kebingungan.

Itu terlihat dari banyak hal. Ya, hal yang tadinya jalan dan sederhana, di tangan kepengurusan yang kini malah buntu dan jadi ribet. Deadlock soal kompetisi yaitu fakta paling mencolok.

Bayangkan jikalau IPL jalan dengan pemaksaan diikuti 24 klub, aktivitas panjangnya niscaya bakal menabrak kalender internasional. Setiap klub juga mumet memikirkan risiko dari aktivitas superketat dan bertumpukan.

Jadi, selepas melewati 100 hari kerja kabinet Djohar dkk, PSSI memang menyerupai mencerminkan KIB. Serba tumpul dan rumit di tengah problem yang kian menumpuk. Sama sekali belum ada buah karya yang lebih baik dibandingkan seburuk-buruknya kabinet sebelumnya.

Sampai di sini, maaf, PSSI kabinet reformasi tak ubahnya KIB: melulu berlumur kegagalan. Sepakbola negeri ini bakal kian terbenam jikalau mereka yang kini mengendalikan gerak PSSI tak sudi membuka diri untuk segera sadar dan berbenah.

(bramono-sportiplus)

Rabu, 04 Januari 2012

Terkini Sepakbola Indonesia - Kompetisi Acakadut

Makin renta usianya, PSSI makin kehilangan daya. Paling mencolok: kompetisinya kini acakadut. Di keabadian sana, Soeratin Sosrosoegondo pun menangis. Salah seorang pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama yang sudah usang mangkat itu niscaya duka melihat iklim sepakbola di Tanah Air kini.

PSSI yang pada 1930 dikibarkan sebagai serpihan dari cara mengobarkan semangat persatuan, makin kemari malah makin penuh riak dan perpecahan. Makin kisruh. Melenceng jauh dari impian awal yang dulu dipancangkan.

Organisasi PSSI tak lagi murni diputar dengan tujuan mulia mirip sedia kala, yakni membangun harkat dan martabat bangsa secara bersama lewat sepakbola. Yang ada kini yaitu PSSI penuh basa-basi bicara regulasi karena kepentingan yang sudah terkisi-kisi.

Menggulingkan kepengurusan sebelumnya dengan dalih hendak mereformasi semoga PSSI dan segenap aktivitasnya jadi lebih benar dan maju, ternyata yang terpampang justru sebaliknya. PSSI, jadwal kerja, dan pengelolaannya kini berjalan mundur. Set back.

Ironisnya, ketika begitu deras desakan untuk melakukan kembali hal-hal yang sebetulnya sedang berkembang dan tinggal diperbaiki, terutama terkait keputusan bersama dalam Kongres Bali, semua ditanggapi dengan agresi tutup mata, tutup telinga.

PSSI, di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin plus tim yang katanya mengusung reformasi, tetap digulirkan dengan caranya sendiri. Bahkan, koreksi dari sebagian anggota Komite Eksekutif (Exco) yang sesungguhnya punya tugas strategis, pun tak digubris.

Akibat paling menohok dari semua itu yaitu kegagapan dalal menggelar kompetisi. Sudah terperinci banyak pengelola klub menolak kehadiran tubuh perjuangan gres sebagai payung kompetisi demam isu 2011/2012, toh para pentolan di PSSI bergeming.

Tak cukup hingga di situ. PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), tubuh perjuangan gres bentukan PSSI yang tak diterima keberadaannya oleh klub-klub sarat pengalaman dan punya rekam jejak mumpuni di lingkup persepakbolaan nasional, kemudian malah memunculkan gagasan kontroversial.

Kontroversi itu meliputi tiga hal: titel kompetisi berubah dari Indonesia Super League (ISL) jadi Indonesia Premier League (IPL), jumlah kontestan dibengkakan dari 18 jadi 24 klub, dan memaksakan sejumlah klub 'antah berantah' diikutkan.

Sebutlah perubahan titel kompetisi tak terlalu prinsip. Tapi, pembengkakan jumlah kontestan plus penyertaan klub eks IPL yang kesudahannya dibekukan karena memang tak genah?

 Salah seorang pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama yang sudah usang mangkat itu niscaya Terkini Sepakbola Indonesia - Kompetisi Acakadut

Dua faktor itu ditambah sengketa atas keberadaan PT LPIS, tak pelak, jadi sumbu peledak perpecahan yang makin dahsyat di tubuh PSSI. Empat anggota Exco pun nekat menempuh jalan sendiri. Mereka melebur bersama sederet klub yang cabut dari IPL 2011/2012 dan menentukan terjun di ISL yang dikelola PT LI.

Pasti aneh, memang, kalau kompetisi level tertinggi di Tanah Air hingga melibatkan 24 klub. Kompetisi dengan jumlah kontestan terbanyak di dunia itu, saking panjanganya, bakal menabrak jadwal internasional. Yang juga sadis, dalam sepekan klub-klub harus berjibaku di 2-3 laga beruntun.

Sungguh tak masuk akal, tentu. Lebih tak masuk nalar ketika kompetisi itu juga diikuti klub yang muncul bukan dari jenjang semestinya. Mengaku emoh ikut jadi bodoh, empat anggota Exco dan para pengelola klub yang berkiblat ke ISL bersikeras menepi. Mereka mengedepankan dua alasan pokok: melanjutkan keputusan Kongres PSSI di Bali dan mengutamakan kompetisi berkualitas.

Kini, akhirnya, mencuatlah kompetisi acakadut itu. PT LPIS menggulirkan IPL dengan jumlah kontestan yang menciut, bahkan tak hingga 15 klub, dan tertatih-tatih meski sanggup restu PSSI.

Di luar jalur PSSI, meski sudah dicap ilegal, PT LI menggelar ISL 2011/2012 dengan jumlah dan kualitas kontestan lebih mumpuni. Mayoritas yaitu klub yang berkiprah di demam isu sebelumnya.

Keputusan Persib Bandung dan Persipura Jayapura terjun di ISL layak disorot khusus. Persib, yang sempat memainkan laga pembuka IPL kontra Semen Padang pada Oktober, berpaling karena bunyi mereka tak didengar. Persipura, bahkan sempat merelakan tiketnya ke Liga Champion Asia (LCA) hangus dan mantap berkiprah di ISL.

Kedua klub menuntut hal yang sama: kompetisi hanya diikuti maksimal 18 kontestan dan kejelasan asal muasal kontestan demi menjaga kualitas. Karena tuntutan itu tak dipedulikan, keduanya pun beralih ke ISL.

Joko Driyono, CEO PT LI, dan klub-klub kontestan ISL sebetulnya sadar kalau ujung dari kompetisi yang mereka jalankan terancam tak jelas. Itu karena ISL dianggap ilegal. Juara ISL nanti belum tentu sanggup berkiprah di kompetisi internasional resmi di jalur AFC.

Sampai di situ, tentu saja PSSI dan PT LPIS di atas angin. Secara struktural, mereka memang berada di jalur AFC dan FIFA. Itu sebabnya, terkait tiket LCA yang dilepas Persipura, mereka impulsif bergerak mencari klub pengganti untuk diusulkan kepada AFC.

Secara struktural pula, PSSI dan segenap perangkat kerjanya kini lagi berkutat menyiapkan hukuman bagi klub-klub yang membelot ke ISL. Anggota Exco yang dianggap mbeling juga sedang diproses Komite Etik PSSI. Lalu, Joko dengan PT LI-nya pun tengah diburu.

Tak terbantahkan, kebenaran secara struktural itu bersifat menempel dan valid. Sebab, garisnya memang sudah begitu dari sananya. PSSI secara adikara resmi berada di bawah AFC dan FIFA. Meski begitu, apalah gunanya benar secara struktural tapi jelek dalam implementasi?

Kenapa di negeri ini, termasuk dalam mengurus PSSI, masih saja menihilkan hal-hal baik yang dicapai pengelola di era sebelumnya hanya karena ketidakcocokan dan ketidaksukaan? Kenapa yang disikapi bukan substansi inti, melainkan soal cara atau sekadar pemilahan situ siapa dan sini siapa?

Kalaulah masih tersisa kejujuran dan kearifan, substansi inti yang dihasilkan Kongres PSSI di Bali sesungguhnya jauh lebih layak dilanjutkan ketimbang mengada-ada mirip sekarang. Yang diharapkan yaitu perbaikan menuju penyempurnaan. Bukan dibongkar habis, apalagi dengan desakan emosi dan kepentingan sepihak.

Kalaulah masih tersisa kejujuran dan kearifan, meski butuh kekuatan mental dan moral, keadaan PSSI berikut kinerjanya ketika ini harus diakui sama sekali belum sanggup lebih baik ketimbang sebelumnya. Fakta yang terhampar di balik semangat mereformasi PSSI masih menyerupai jauh pagang dari api.

Rekonsiliasi, tak pelak, patut dijadikan pilihan bijak dan taktis. Sebagaimana dicita-citakan Soeratin dkk dulu, bersama membangun kekuatan sebaiknya diyakini sebagai jalan terbaik.

Yakinlah di negeri ini masih tersimpan energi dan potensi. Di tanah Papua, misalnya, bertebaran talenta alam yang kalau dibina dengan sempurna niscaya tumbuh jadi kekuatan dahsyat. Dan, semua itu akan efektif kalau digali dan diasah bersama.

Kebersamaan yang nrimo itu bukan cuma demi mengangkat harkat dan martabat bangsa, tapi juga menjauhkan diri dari kompetisi acakadut yang kini membelit.

(bramono-sportiplus)