This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 29 Februari 2012

Terkini Pssi (Maaf) Sudah Gagal

Tak berlebihan jikalau makin banyak orang nyeletuk begini: urusan PSSI sama rumit dengan urusan negara. Problem bukan menyusut, melainkan malah menumpuk.

Ketika di tingkat negara Presiden Susilo 'SBY' Bambang Yudhoyono tampak gagap memproses reshufle kabinetnya dengan hasil yang kesudahannya juga dicibir, PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husin pun begitu di hampir setiap langkahnya.

Suka atau tidak, sealiran atau tidak dalam pandangan politik, di tingkat rakyat kebanyakan kini kian berpengaruh anggapan kinerja pemerintahan SBY tak lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Kehidupan di negeri ini kini tak jadi lebih terang dari sebelumnya. Sekalipun dibandingkan jauh ke kurun Orba yang penuh kontroversi.

Di lingkup yang jauh lebih kecil, yakni dalam urusan sepakbola, tercermin pula keadaan yang tidak membaik itu. PSSI yang katanya harus direvolusi dan itu sudah terpenuhi lewat KLB 9 Juli 2011 di Solo, bukan saja tak lebih baik dari PSSI sebelumnya, tapi malah kian runyam dan tenggalam dalam banyak problem.

Tak berlebihan jikalau makin banyak orang nyeletuk begini Terkini PSSI (Maaf) Sudah Gagal

Tak ubahnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan SBY yang kian gemuk dan kian tidak taktis cara kerjanya, kelemahan fundamental menyerupai itu pula yang ditunjukkan Djohar dan pasukan reformasinya di PSSI kini.

Cara yang ditempuh PSSI setiap hendak menuntaskan problem kerap justru menyebabkan problem baru. Dari sebegitu banyak problem yang coba diurus sepanjang empat bulan kepemimpinan Djohar, belum ada yang dapat diberesi. Masalah justru melebar, kisruh, dan berbuntut. Ironis.

Lihat saja bagaimana PSSI menihilkan arti sebuah kontrak kerja dalam kasus Alfred Riedl dan antv. Riedl disingkirkan begitu saja dikala sedang bekerja mengasah timnas Pra Piala Dunia 2014. Nasib serupa menimpa antv sebagai pemegang kontrak 10 tahun hak siar kompetisi tertinggi nasional.

Riedl digantikan Wim Rijsbergen yang sama sekali tak terbukti lebih becus. Timnas Indonesia tiga kalah dan (hampir) niscaya gagal ke putaran 4. Sedangkan fungsi antv dialihkan ke MNC Grup dengan tiga stasiun teve nasionalnya. Mutu siaran memang oke, tapi di balik itu ada pihak yang tertindas.

Kinerja PSSI dengan segenap perangkat kerjanya yang tidak clear juga menambah puyeng sejumlah pengelola klub.

Alih-alih memverifikasi kontestan jelang kompetisi demam isu 2011/2012, ujungnya malah konflik yang kian meruncing di internal Arema Indonesia, Persebaya Surabaya, dan yang terparah menimpa Persija Jakarta.

Itu sebab PSSI dan perangkat kerjanya, termasuk Komite Eksekutif (Exco) yang belakangan terbelah-belah, menunjuk pihak yang dinilai sah sebagai pengelola klub condong menurut selera, kedekatan atau kepentingan tertentu.

Tak kalah konyol yaitu keputusan mengangkat Saleh Ismail Mukadar sebagai Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI. Konyol, sebab dikala diangkat Saleh masih dalam status diskors.

Saleh terkena hukuman tiga tahun tak boleh aktif mengurusi sepakbola dari Komisi Disiplin PSSI yang berlaku per 24 September 2010. Artinya, hukuman atas diri Saleh mestinya gres berakhir 24 September 2013. Selain itu, status Saleh juga bermasalah di Pengprov PSSI Jatim. PSSI seolah tutup mata terhadap semua itu.

Cukup? Belum. Di dikala vital dan krusial jelang bergulirnya kompetisi yang awalya hendak dimulai per 8 Oktober 2011, PSSI di tangan Djohar dkk malah kian gegabah. Kian kentara tak dapat bekerja lebih baik dari kabinet sebelumnya.

PSSI kabinet reformasi kian masa terbelakang dengan aturan main dan janji yang dicapai dalam kongres yang punya kekuatan aturan dari sisi etika. Dan, kian mempertegas kdberadaannya di balik maksud-maksud tertentu yang selama ini digunjingkan.

Semua itu dengan gampang ditangkap siapapun yang masih kritis dan berniat murni menyehatkan sepakbola nasional. Sebab, PSSI dengan gagah dan penuh percaya diri memplot kontestan kompetisi utama dari 18 jadi 24. Yang enam yaitu 'titipan' dari Liga Primer Indonesia (LPI).

Parahnya, dua di antara enam klub yang dipaksakan masuk itu juga mengusung status terhukum jawaban membelot ke LPI ketika PSSI masih dipimpin Nurdin Halid. Sanksi terhadap PSM Makassar dan Persibo Bojonegoro dijatuhkan dalam Kongkres Bali. Jika ingin dianulir, sesuai statuta, mestinya ya lewat kongres pula.

Kompetisi yang semula dinamai Liga Prima Indonesia, kemudian direvisi jadi Indonesia Premier League (IPL) dan akan berjalan di bawah kendali PT Liga Prima (LPI) Sportindo itu kesudahannya tak terang sampai kini.

Managers meeting, Kamis (13/10) di Hotel Ambhara, Jakarta, deadlock. Ke-24 klub terpecah dua: 14 membelot dan tak sudi berkompetisi di bawah naungan PT LPI, 10 sisanya manut-manut saja sebab sebagian memang eks LPI yang ilegal itu.

Yang sempat digulirkan gres tabrak Persib Bandung kontra Semen Padang di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (15/10). Entah, skor 1-1 dikala itu mau diapakan PSSI (dianggap ekshibisi atau masuk pdnilaian klasemen IPL), yang terang kompetisi resminya masih tanda tanya.

Dari aktivitas semula 8 Oktober, geser ke 9 Oktober, kemudian ke 15 Oktober dan seterusnya, belakangan malah disebut IPL gres dilanjut sehabis SEA Games XXVI yang berakhir 21 November 2011.

Bagaimana pun nantinya IPL itu dijalankan, dari kerumitan soal kompetisi ini saja PSSI lagi-lagi memang terkesan belum puas melampiaskan misi tebas ganjal terhadap apapun sisa kerja PSSI kurun sebelumnya.

Itu, tak pelak, malah menciptakan PSSI kabinet reformasi tertatih-tatih, penuh blunder, dan kesudahannya terjebak dalam kebingungan.

Itu terlihat dari banyak hal. Ya, hal yang tadinya jalan dan sederhana, di tangan kepengurusan yang kini malah buntu dan jadi ribet. Deadlock soal kompetisi yaitu fakta paling mencolok.

Bayangkan jikalau IPL jalan dengan pemaksaan diikuti 24 klub, aktivitas panjangnya niscaya bakal menabrak kalender internasional. Setiap klub juga mumet memikirkan risiko dari aktivitas superketat dan bertumpukan.

Jadi, selepas melewati 100 hari kerja kabinet Djohar dkk, PSSI memang menyerupai mencerminkan KIB. Serba tumpul dan rumit di tengah problem yang kian menumpuk. Sama sekali belum ada buah karya yang lebih baik dibandingkan seburuk-buruknya kabinet sebelumnya.

Sampai di sini, maaf, PSSI kabinet reformasi tak ubahnya KIB: melulu berlumur kegagalan. Sepakbola negeri ini bakal kian terbenam jikalau mereka yang kini mengendalikan gerak PSSI tak sudi membuka diri untuk segera sadar dan berbenah.

(bramono-sportiplus)

Rabu, 04 Januari 2012

Terkini Sepakbola Indonesia - Kompetisi Acakadut

Makin renta usianya, PSSI makin kehilangan daya. Paling mencolok: kompetisinya kini acakadut. Di keabadian sana, Soeratin Sosrosoegondo pun menangis. Salah seorang pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama yang sudah usang mangkat itu niscaya duka melihat iklim sepakbola di Tanah Air kini.

PSSI yang pada 1930 dikibarkan sebagai serpihan dari cara mengobarkan semangat persatuan, makin kemari malah makin penuh riak dan perpecahan. Makin kisruh. Melenceng jauh dari impian awal yang dulu dipancangkan.

Organisasi PSSI tak lagi murni diputar dengan tujuan mulia mirip sedia kala, yakni membangun harkat dan martabat bangsa secara bersama lewat sepakbola. Yang ada kini yaitu PSSI penuh basa-basi bicara regulasi karena kepentingan yang sudah terkisi-kisi.

Menggulingkan kepengurusan sebelumnya dengan dalih hendak mereformasi semoga PSSI dan segenap aktivitasnya jadi lebih benar dan maju, ternyata yang terpampang justru sebaliknya. PSSI, jadwal kerja, dan pengelolaannya kini berjalan mundur. Set back.

Ironisnya, ketika begitu deras desakan untuk melakukan kembali hal-hal yang sebetulnya sedang berkembang dan tinggal diperbaiki, terutama terkait keputusan bersama dalam Kongres Bali, semua ditanggapi dengan agresi tutup mata, tutup telinga.

PSSI, di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin plus tim yang katanya mengusung reformasi, tetap digulirkan dengan caranya sendiri. Bahkan, koreksi dari sebagian anggota Komite Eksekutif (Exco) yang sesungguhnya punya tugas strategis, pun tak digubris.

Akibat paling menohok dari semua itu yaitu kegagapan dalal menggelar kompetisi. Sudah terperinci banyak pengelola klub menolak kehadiran tubuh perjuangan gres sebagai payung kompetisi demam isu 2011/2012, toh para pentolan di PSSI bergeming.

Tak cukup hingga di situ. PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), tubuh perjuangan gres bentukan PSSI yang tak diterima keberadaannya oleh klub-klub sarat pengalaman dan punya rekam jejak mumpuni di lingkup persepakbolaan nasional, kemudian malah memunculkan gagasan kontroversial.

Kontroversi itu meliputi tiga hal: titel kompetisi berubah dari Indonesia Super League (ISL) jadi Indonesia Premier League (IPL), jumlah kontestan dibengkakan dari 18 jadi 24 klub, dan memaksakan sejumlah klub 'antah berantah' diikutkan.

Sebutlah perubahan titel kompetisi tak terlalu prinsip. Tapi, pembengkakan jumlah kontestan plus penyertaan klub eks IPL yang kesudahannya dibekukan karena memang tak genah?

 Salah seorang pendiri PSSI sekaligus ketua umum pertama yang sudah usang mangkat itu niscaya Terkini Sepakbola Indonesia - Kompetisi Acakadut

Dua faktor itu ditambah sengketa atas keberadaan PT LPIS, tak pelak, jadi sumbu peledak perpecahan yang makin dahsyat di tubuh PSSI. Empat anggota Exco pun nekat menempuh jalan sendiri. Mereka melebur bersama sederet klub yang cabut dari IPL 2011/2012 dan menentukan terjun di ISL yang dikelola PT LI.

Pasti aneh, memang, kalau kompetisi level tertinggi di Tanah Air hingga melibatkan 24 klub. Kompetisi dengan jumlah kontestan terbanyak di dunia itu, saking panjanganya, bakal menabrak jadwal internasional. Yang juga sadis, dalam sepekan klub-klub harus berjibaku di 2-3 laga beruntun.

Sungguh tak masuk akal, tentu. Lebih tak masuk nalar ketika kompetisi itu juga diikuti klub yang muncul bukan dari jenjang semestinya. Mengaku emoh ikut jadi bodoh, empat anggota Exco dan para pengelola klub yang berkiblat ke ISL bersikeras menepi. Mereka mengedepankan dua alasan pokok: melanjutkan keputusan Kongres PSSI di Bali dan mengutamakan kompetisi berkualitas.

Kini, akhirnya, mencuatlah kompetisi acakadut itu. PT LPIS menggulirkan IPL dengan jumlah kontestan yang menciut, bahkan tak hingga 15 klub, dan tertatih-tatih meski sanggup restu PSSI.

Di luar jalur PSSI, meski sudah dicap ilegal, PT LI menggelar ISL 2011/2012 dengan jumlah dan kualitas kontestan lebih mumpuni. Mayoritas yaitu klub yang berkiprah di demam isu sebelumnya.

Keputusan Persib Bandung dan Persipura Jayapura terjun di ISL layak disorot khusus. Persib, yang sempat memainkan laga pembuka IPL kontra Semen Padang pada Oktober, berpaling karena bunyi mereka tak didengar. Persipura, bahkan sempat merelakan tiketnya ke Liga Champion Asia (LCA) hangus dan mantap berkiprah di ISL.

Kedua klub menuntut hal yang sama: kompetisi hanya diikuti maksimal 18 kontestan dan kejelasan asal muasal kontestan demi menjaga kualitas. Karena tuntutan itu tak dipedulikan, keduanya pun beralih ke ISL.

Joko Driyono, CEO PT LI, dan klub-klub kontestan ISL sebetulnya sadar kalau ujung dari kompetisi yang mereka jalankan terancam tak jelas. Itu karena ISL dianggap ilegal. Juara ISL nanti belum tentu sanggup berkiprah di kompetisi internasional resmi di jalur AFC.

Sampai di situ, tentu saja PSSI dan PT LPIS di atas angin. Secara struktural, mereka memang berada di jalur AFC dan FIFA. Itu sebabnya, terkait tiket LCA yang dilepas Persipura, mereka impulsif bergerak mencari klub pengganti untuk diusulkan kepada AFC.

Secara struktural pula, PSSI dan segenap perangkat kerjanya kini lagi berkutat menyiapkan hukuman bagi klub-klub yang membelot ke ISL. Anggota Exco yang dianggap mbeling juga sedang diproses Komite Etik PSSI. Lalu, Joko dengan PT LI-nya pun tengah diburu.

Tak terbantahkan, kebenaran secara struktural itu bersifat menempel dan valid. Sebab, garisnya memang sudah begitu dari sananya. PSSI secara adikara resmi berada di bawah AFC dan FIFA. Meski begitu, apalah gunanya benar secara struktural tapi jelek dalam implementasi?

Kenapa di negeri ini, termasuk dalam mengurus PSSI, masih saja menihilkan hal-hal baik yang dicapai pengelola di era sebelumnya hanya karena ketidakcocokan dan ketidaksukaan? Kenapa yang disikapi bukan substansi inti, melainkan soal cara atau sekadar pemilahan situ siapa dan sini siapa?

Kalaulah masih tersisa kejujuran dan kearifan, substansi inti yang dihasilkan Kongres PSSI di Bali sesungguhnya jauh lebih layak dilanjutkan ketimbang mengada-ada mirip sekarang. Yang diharapkan yaitu perbaikan menuju penyempurnaan. Bukan dibongkar habis, apalagi dengan desakan emosi dan kepentingan sepihak.

Kalaulah masih tersisa kejujuran dan kearifan, meski butuh kekuatan mental dan moral, keadaan PSSI berikut kinerjanya ketika ini harus diakui sama sekali belum sanggup lebih baik ketimbang sebelumnya. Fakta yang terhampar di balik semangat mereformasi PSSI masih menyerupai jauh pagang dari api.

Rekonsiliasi, tak pelak, patut dijadikan pilihan bijak dan taktis. Sebagaimana dicita-citakan Soeratin dkk dulu, bersama membangun kekuatan sebaiknya diyakini sebagai jalan terbaik.

Yakinlah di negeri ini masih tersimpan energi dan potensi. Di tanah Papua, misalnya, bertebaran talenta alam yang kalau dibina dengan sempurna niscaya tumbuh jadi kekuatan dahsyat. Dan, semua itu akan efektif kalau digali dan diasah bersama.

Kebersamaan yang nrimo itu bukan cuma demi mengangkat harkat dan martabat bangsa, tapi juga menjauhkan diri dari kompetisi acakadut yang kini membelit.

(bramono-sportiplus)

Sabtu, 31 Desember 2011

Terkini Hope...

Tuhan, 2011 dalam hitungan waktu akan segera berakhir. Saya, tentu saja tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Karena hanya kaulah yang maha mengetahui.

Tapi setidaknya, aku memiliki cita-cita besar untuk tim yang aku cintai, Arema Indonesia di Tahun 2012 kedepannya.

Bisakah engkau menciptakan Arema, klub yang menciptakan aku menyayangi sepakbola Indonesia itu kembali menjadi satu ibarat ketika aku pertama kali mengenal Arema dulu ?

Bisakah engkau menyebabkan tim berjuluk singo edan itu kembali meraih masa jayanya ibarat tahun-tahun sebelumnya ?

Bisakah engkau tunjukan mana yang sebetulnya benar-benar menyayangi Arema dan Mana yang sebetulnya benar-benar pantas mengucapkan, “ini semua demi Arema” ?


 dalam hitungan waktu akan segera berakhir Terkini Hope...

Lalu,
Bahagiakanlah mereka Tuhan; Aremania Aremanita dan para punggawa Arema yang tetap setia mendukung Arema.

Baik Aremania Aremanita yang setiap pertandingan tiba memenuhi stadion, atau Aremania dan Aremanita yang hanya dapat mendukung lewat layar kaca, siaran radio atau sekedar hastag di twitter dan tanda “like this” di facebook.

Dan juga untuk para punggawa Arema yang tetap setia mengenakan jersey Arema walaupun kisruh di dalam badan Arema terus tiba dan pergi,
serta punggawa Arema yang pernah membela Arema, yang pernah menyayangi Arema dan menciptakan Aremania dan Aremanita cinta mereka tetapi kini harus mengenakan jersey tim lain alasannya ialah alasan tertentu.

Tuhan, Bahagiakan mereka. Buat Arema kami menjadi satu, dan berikanlah kesadaran untuk segelintir orang yang menganggap dirinya dapat melaksanakan segalanya sehingga menciptakan Arema kami ibarat sekarang.


semoga Tuhan mengizinkan semua itu terjadi..
biar Tuhan mengabulkan segala cita-cita kami.

amin ...


(sumber:annlawliet.blog.com)

Kamis, 29 Desember 2011

Terkini Jangan Pilih Ketua Umum Pssi Yang Menyerupai Boneka

Pengamat sepak bola Indonesia Tommy Welly menilai, kisruh yang melanda PSSI dikala ini sulit untuk diselesaikan. Salah satu cara untuk mengurai benang kusut yakni mengganti pengurus gres dengan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB).

Dia juga sependapat dengan langkah Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI) yang bakal menyelenggarakan KLB pada 6 Maret 2012 mendatang di Surabaya.

Pengamat sepak bola Indonesia Tommy Welly menilai Terkini Jangan Pilih Ketua Umum PSSI Yang Seperti Boneka

"Tolong siapkan KLB dengan baik. Pilih ketua yang kredibel dan tidak mempunyai kepentingan apapun. Jangan hingga menentukan ketua, kemudian dijadikan boneka," kata Tommy pada Acara Refleksi Akhir Tahun perihal Perjalanan PSSI, Seputar Kisruh PSSI dan Pasca-Kongres di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (29/12).

Boneka yang dimaksud Tommy yakni Ketum PSSI Djohar Arifin Husin, yang sejauh ini dinilai hampir tak berani menjalankan programnya dengan inisiatif sendiri. Namun, laki-laki asal Medan tersebut terlebih dulu berkonsultasi dengan Arifin Panigoro, seorang pengusaha yang disebut-sebut berada di belakang Djohar.

"Lihat saja. Mau melaksanakan ini, ia tiba ke Jenggala (Rumah Arifin Panigoro-red) dulu. Mau itu ke Jenggala lagi. Ke depan, jangan hingga ketua yang gres ibarat ini yang disetir pihak tertentu," ungkap dia.

Pria yang juga sering menjadi komentator sepak bola ini menambahkan, kalau PSSI berhasil merangkul semua kalangan, niscaya sepak bola nasional akan lebih maju.

"Jangan malah melaksanakan revolusi sepak bola. Menurut saya, frase 'revolusi' tidak sempurna untuk diterapkan di sepak bola. Program yang baik dari kepengurusan sebelumnya dipertahankan, kemudian yang buruk ditinggalkan. Kalau direvolusi total, mana sanggup maju sepak bola Indonesia," tandasnya.

Dia juga menyayangkan tindakan PSSI yang tidak mendaftarkan Persipura Jayapura tampil di Liga Champion Asia. Padahal, kejuaraan itu diikuti klub-klub dari negara elite di Asia ibarat Jepang, Korea dan Arab.

"Ini sesungguhnya tahapan yang harus dilalui kalau sepak bola Indonesia ingin berkembang. Ada kesempatan menghadapi tim-tim elite di Asia saja tidak ikut, mana mungkin akan ke Piala Dunia. Jangan mimpi juga Indonesia akan jadi Macan Asia," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pengprov PSSI DKI Jakarta Hardi HAsan mengatakan, seluruh Pengprov di Indonesia pernah diberi akad oleh Djohar Arifin akan diberi uang training sebesar Rp 1 miliar per tahun. Namun, hingga dikala ini, akad tersebut belum kunjung ditepati. "Janji itu nol hingga sekarang," ujar dia.

Dia juga berharap, KLB yang diselenggarakan KPSI nanti benar-benar menentukan ketua umum yang sanggup meluruskan seluruh problem seputar PSSI dan menyatukan aneka macam macam kelompok dan kepentingan. Ketika disinggung mengenai sosok yang sempurna memimpin induk sepak bola nasional, Hardi menyebut Dahlan Iskan dan EE Mangindaan.

(sumber:suaramerdeka)

Terkini Dongeng Kusam Sepak Bola Indonesia Tahun 2011

Tahun 2011, persepakbolaan Indonesia dihadapkan pada dua sisi mata uang yang tidak sanggup dipisahkan. Sisi pertama ialah usaha memperbaiki prestasi. Hasilnya cukup bagus, gelaran Piala AFF dan prospek emas dari timnas U-23 di ajang SEA Games cukup memuaskan.

Tapi di sisi yang lain, kisruh PSSI tak sanggup terelakan. Tepatnya pada medio April 2011, kisruh yang melanda PSSI tak sanggup terurai meskipun di bulan ini dilakukan pembekuan Komite Eksekutif oleh FIFA dan pembentukan Komite Normalisasi.

 persepakbolaan Indonesia dihadapkan pada dua sisi mata uang yang tidak sanggup dipisahkan Terkini Kisah Kusam Sepak Bola Indonesia Tahun 2011

Setelah sekitar empat bulan terombang-ambing dalam pusaran konflik, FIFA kesudahannya turun tangan eksklusif menengahi kisruh di tubuh otoritas sepakbola nasional. Di awal bulan ini, FIFA tetapkan mengambil alih Komite Eksekutif dan pada ketika bersamaan membentuk Komite Normalisasi (KN), dengan diketuai Agum Gumelar.

Tugas KN adalah: (1) menjalankan pemilihan ketua umum dan wakil ketua umum serta Exco PSSI, (2) mengontrol liga di bawah PSSI termasuk mengontrol Liga Primer Indonesia (LPI) atau menghentikannya serta (3) menjalankan fungsi keseharian PSSI, sebagaimana mestinya termasuk melaksanakan training dan lainnya.

Sayangnya sesudah Nurdin Halid mundur, dan Djohar Arifin naik tahta di dingklik ketua umum, kisruh tak lantas terhapus. Sebaliknya dongeng kusam terus berlanjut. Yang lebih parah, di kurun pengurus baru, dualisme kompetisi ternyata masih tetap terjadi.

Verifikasi penentuan tim akseptor Liga Indonesia 2011-2012 beraroma kompromi dan kepentingan. Seperti permainan sulap, tinggal bilang simsalabim, PSSI dengan gampang mengubah keputusan setiap ketika dengan berlindung di balik statuta.

Buktinya, pada 20 September 2011 silam, Sekjen PSSI Tri Goestoro kepada wartawan menyatakan bahwa Persema, Persibo, PSM Makarsar tidak sanggup berlaga di Liga Indonesia level teratas. “Karena Persema, Persibo, dan PSM demam isu kemudian tidak ikut kompetisi, mereka tidak sanggup ikut kompetisi demam isu depan. Paling-paling mereka bakal tampil di Divisi Utama,” kata Tri dalam press conference di Kantor PSSI tersebut.

Namun, apa yang terjadi dalam lanjutan sidang pleno Executive Committee (Exco) PSSI di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, dua hari stelahnya atau tepatnya pada 22 September ? Dalam rapat yang diikuti lebih banyak didominasi anggota exco, sidang pleno mengubah keputusan. Hasil sidang pleno tetapkan kompetisi 2011/2012 akan diikuti 24 akseptor dari 18 yang sebelumnya sudah disepakati.

Yang patut dipertanyakan ialah proteksi tiket cuma-cuma kepada enam klub. Yakni, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan Bontang FC. Padahal dalam kongres tahunan PSSI di Bali pada Januari 2011, keanggotaan Persema dan Persibo dicabut. Sedangkan PSM oleh exco dieksekusi degradasi ke Divisi I.

Sementara itu, alasan masuknya PSMS dan Persebaya, berdasarkan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin dalam press conference berbeda. Djohar mengatakan, dua tim itu mempunyai kaitan sejarah dalam sepak bola tanah air. Alasan Bontang FC diloloskan lebih ironis lagi. Yaitu, Bontang disebut-sebut sebagai klub degradasi terbaik di ISL demam isu lalu.

Akibatnya sudah sanggup ditebak, perilaku kesewenang-wenangan PSSI dengan mengabaikan prinsip Fair Play dan hasil kongres di Bali menjadi penyebab dualisme kompetisi. Klub-klub terbaik Indonesia berbalik tubuh menuju ISL. Bahkan kompetisi ISL yang dianggap PSSI sebagai liga Ilegal ternyata sanggup berjalan mulus. Pertandingan sanggup digelar di setiap daerah. Tim-tim ISL yang terus berusa mencari sponsor sendiri paska tidak diperbolehkannya penggunaan APBD. Mereka berjuang dan berdarah-darah menggelar kompetisi dengan modal apa adanya.

Kondisi ini mungkin tak terasa bagi tim yang berlaga di IPL. Mereka menerima sokongan dana miliaran rupiah. Bukan diam-diam lagi, kalau pendukung setia dari IPL ialah tim tim yang dikelola konsorsium (perusahaan). Kehadiran konsorsium di tim bertujuan untuk mengeruk hasil keuntungan baik dari sponsor, hak siar, dan tiket. Terlebih lagi, pada demam isu sebelumnya proyek konsorsium lewat Liga Primernya mengalami kerugian besar.

Uniknya Indonesia Primer League (IPL) bentukan PSSI kurun Djohar ternyata kalah mentereng dibanding, Indonesia Super League (ISL) produk PT Liga Indonesia yang sudah ada semenjak jaman Nurdin Halid dulu.

Sebaliknya perjalanan IPL terus menemui kerikil krikil. Amburadulnya jadwal pertandingan yang menciptakan jompetisi tak kunjung digelar. Kepercayaan makin turun. Hingga kesudahannya FIFA memberi ancaman, kalau sampai Maret dualisme kompetisi atau tegasnya kisruh tak kunjung terselesaikan, hukuman lah yang akan didapat sepak bola Indonesia.

Hingga penghujung 2011 ketika ini, dongeng kusam sepak bola Indonesia tak juga berakhir. Bukan mustahil sampai memasuki 2012 benang kusut tak akan sanggup terurai.

(sumber:galamedia, harianolahraga)

Rabu, 28 Desember 2011

Terkini Deklarasi Jakarta Di Selesai Tahun

Kekacauan sepakbola nasional semenjak menjelang lengsernya Nurdin Halid, Kongres Luar Biasa, munculnya Komite Normalisasi hingga jadinya Djohar Arifin dikursi PSSI 1 menuju jalan yang panjang. Bahkan jikalau ditarik jauh ke belakang ketika adanya Kongres Sepakbola Nasional di Malang yang dicetuskan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang menginspirasi lahirnya Liga Primer Indonesia ( LPI ) maka sudah lebih dari setahun sepakbola Indonesia dilanda ketidakjelasan.

Perombakan format kompetisi sekaligus pembatalan strata klub Indonesia, dualisme klub yang diputuskan secara tidak fair, tudingan PSSI terhadap Alfred Riedl yang dikontrak secara pribadi menjadi bibit – bibit kekacauan di periode Djohar – Farid Rahman.

Kata “profesional” yang menjadi senjata andalan PSSI kini rupanya sudah tidak mempan lagi sebagai peredam keresahan klub – klub sepakbola Indonesia. Pantas alasannya ialah klaim profesional hanyalah sebuah ratifikasi tanpa bukti.

Alur dongeng kini memuncak alasannya ialah pengprov PSSI dan klub – klub banyak sekali divisi di Indonesia telah melaksanakan Rapat Akbar Sepakbola Nasional ( RASN ) yang menuntut biar Kongres Luar Biasa diadakan untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia dari kehancuran.

Kekacauan sepakbola nasional semenjak menjelang lengsernya Nurdin Halid Terkini Deklarasi Jakarta di Akhir Tahun

452 (Empat Ratus Lima Puluh Dua) anggota PSSI yang hadir dalam Rapat Akbar di Hotel Pullman Jakarta (18/12) ini menumpahkan aspirasi mereka dalam 5 butir perilaku yang terangkum dalam Deklarasi Jakarta :

DEKLARASI JAKARTA
1. Menyampaikan mosi tidak percaya kepada Djohar Arifin Husin (Ketua Umum PSSI), Farid Rahman (Wakil Ketua Umum), Sihar Sitorus (anggota Komite Eksekutif PSSI), Mawardi Nurdin (anggota Komite Eksekutif PSSI), Widodo Santoso (anggota Komite Eksekutif PSSI), Tuti Dau (anggota Komite Eksekutif PSSI), Bob Hippy (anggota Komite Eksekutif PSSI) alasannya ialah dinilai tidak kredibel menjalankan organisasi PSSI dan melaksanakan pelanggaran terhadap? statuta PSSI dan tidak menjalankan hasil keputusan kongres tahunan tahun 2011 di Bali.
2. Meminta untuk diselenggarakan KLB PSSI dengan agenda pemilihan Ketum, Waketum dan anggota Komite Eksekutif PSSI ? paling lambat 30 Maret 2012.
3. Meminta kepada PSSI untuk memperlihatkan balasan terhadap diselenggarakannya KLB PSSI tersebut pada poin 2, selambatnya 23 Desember 2011.
4. Membentuk Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia yang terdiri Tony Apriliani (ketua), La Nyalla M Mattalitti, Roberto Rouw, Erwin Dwi Budiawan, Benhur Tommy Mano, M Farhan, Dody Alex Nurdin, FX Hadi Rudyatmo, Sumaryoto, Hardi, Benny Dolo, yang mempunyai kiprah untuk memastikan diselenggarakannya KLB PSSI tersebut. Dan apabila PSSI tidak bersedia, maka dengan ini kami? memperlihatkan kewenangan penuh kepada Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia untuk menyelenggarakan KLB PSSI sesuai Statuta PSSI.
5. Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia juga akan bertugas menjalankan roda organisasi PSSI sesuai hasil kongres II di Bali termasuk memproteksi dapat dipercaya dan integritas PSSI dan anggotanya hingga dengan terpilihnya Komite Eksekutif PSSI yang baru.

Deklarasi yang merupakan aspirasi para pemilik bunyi PSSI ini nyatanya gagal diserahkan pribadi kepada Djohar Arifin Husin selaku ketua umum PSSI. Karena Sang Ketua rupanya tidak ada ditempat.

Kongres Bali merupakan fakta yang terus–terusan dibantah oleh PSSI kabinet Djohar Arifin nyatanya menjadi senjata makan tuan bagi PSSI. Kongres yang menghasilkan keputusan saham Liga Super Indonesia sebanyak 99% milik klub penerima 1 % PSSI, dan Liga Super Indonesia diisi oleh 18 klub, dikelola oleh PT.Liga Indonesia, diingkari oleh PSSI dengan mencabut mandat PT.Liga Indonesia dan menggantinya dengan PT.Liga Prima Sportindo.

Dendam ternyata berujung kebodohan. Itulah yang dilakoni oleh PSSI. Merasa mempunyai sebuah konsep “matang” dalam membangun sepakbola Indonesia maka semua yang dianggap warisan pengurus terdahulu ditebang. Padahal PSSI sendiri tidaklah siap dengan konsep mereka membangun sepakbola Indonesia dari awal. Perombakan kompetisi, pembatalan strata klub sepakbola, dualisme klub,promosi gratis kepada klub – klub tertentu menjadi bara api yang tak dapat dipadamkan oleh PSSI.

Ketidaksiapan mereka menggelar kompetisi semakin terlihat dengan pengaturan jadwal yang kacau dan sepinya sponsor.

Kebodohan PSSI ialah dengan mengingkari keputusan kongres yang diganti dengan keputusan rapat exco. Alasan PSSI alasannya ialah anggota exco ialah perwakilan bunyi pengprov PSSI se-Indonesia. Logika yang sederhana namun salah besar. Tak mungkin keputusan sidang paripurna diganti oleh sidang komisi. Kenapa tidak Djohar Arifin, jikalau ingin menganulir keputusan Kongres Bali, segera melaksanakan Kongres sesaat sesudah beliau terpilih ? Inilah pelanggaran statuta oleh PSSI.

Kini jalan semakin terjal bagi PSSI. Suara – bunyi galau sudah lantang, bunyi – bunyi kecewa sudah terdengar. Jika saya bertemu Djohar Arifin saya akan berkata :
“Pak Pilihannya ada 2 yaitu menangkap aspirasi klub – klub dan melaksanakannya atau menganggap semua angin kemudian saja ? Jika pilihan terakhir yang diambil maka nasib Bapak tidak akan jauh berbeda dengan Nurdin Halid yang tidak mau mendengarkan aspirasi para pemilik suara. Kedua pilihan ini konsekuensinya seumur hidup. Pilihan pertama nama Bapak akan harum seumur hidup, pilihan kedua nama Bapak akan diingat sebagai otak kekacauan seumur hidup.”

Pilihan mana yang akan diambil PSSI. Wait N See...

sumber : www.antaranews.com , www.bolabob.com

Senin, 12 Desember 2011

Terkini Ngono Yo Ngono, Tapi Yo Ojo Ngono ...

Judul di atas yaitu sebuah kearifan lokal budaya Jawa. Secara harafiah dalam bahasa Indonesia berarti "Baiklah begitu, tapi jangan begitu" atau "Meskipun begitu, tapi jangan begitu". Misterius, bukan ?

Oleh : Wita Lestari

Meskipun cukup populer, namun toh ungkapan tersebut tetap membingungkan, bahkan menimbulkan pertanyaan di kalangan berbudaya Jawa sendiri. Seandainya kita menerima pesan tersirat "Ngono yo ngono, ning ojo ngono" mungkin kita juga gundah menangkap maksudnya.

BELAJAR DARI NYANYIAN
Ungkapan misterius ini masih sanggup didengar dalam nyanyian. Sebuah tembang dolanan berjudul "Rama, Rama, Ono maling", mengisahkan seorang gadis yang berseru kepada ayahnya bahwa ada seorang pencuri memasuki jendela kamarnya; pencurinya seorang laki-laki ganteng; dan pada hasilnya ia mengaku bahwa yang dicuri yaitu hatinya sendiri. Lalu pada pecahan reffrain dinyanyikan Ngono yo ngono ning ojo ngono. Nah, dalam lagu ini makna ungkapan tersebut masih kurang jelas juga.

Sebuah aliran seringkali diungkapkan secara samar-samar. Mengapa ? Bila terlalu gamblang, mirip orang makan, seseorang tinggal menelannya tanpa perlu mengunyah: tidak ada proses mencerna secara mendalam. Tidak problem bahwa makna yang ditemukan tidak terlalu tepat. Pada hasilnya bila berproses terus-menerus, seseorang akan hingga pada makna terdalam yang tidak selalu sanggup diungkapkan dengan kata-kata, tapi terjadilah pembatinan (internalisasi) terhadap makna ajaran. Jadi, yang penting yaitu proses, bukan jalan pintas mencapai tujuan.

Lalu, apa yang sanggup dijelaskan dari syair tembang di atas ? Artinya, mencuri hati seseorang itu boleh-boleh saja, tapi kita tetap perlu sadar untuk mau memakai cara-cara yang etis. Dapat dibayangkan bagaimana jikalau dongeng dalam lagu tersebut diteruskan. Meskipun mungkin bersama-sama sang ayah bahagia anak gadisnya dicintai laki-laki ganteng, tapi mungkin saja si ayah kemudian tiba dan eksklusif memukuli laki-laki ganteng yang tidak etis (diam-diam masuk ke kamar anak gadisnya) itu atau bahkan eksklusif memanggil tetangga-tetangga untuk menciptakan pengadilan masa.

Nah, ternyata bagaimana aliran tersebut diungkapkan dalam tembang Romo, Romo, ana maling (secara samar-samar) dan juga makna syair lagu itu sendiri menunjuk pada pentingnya proses atau cara mencapai tujuan. Sebuah tujuan yang sah perlu dicapai dengan cara atau proses yang sah pula, tidak memakai jalan pintas yang tidak etis.

PROBLEM SOSIAL
Ngono yo ngono ning ojo ngono, meski berupa ungkapan berbahasa Jawa namun terang bahwa maknanya tidak hanya cocok untuk kultur Jawa. Pentingnya adat dalam mencapai tujuan merupakan norma yang berlaku universal. Robbin Hood yang dikisahkan sebagai pendekar penolong orang miskin pun pada hasilnya dalam perihal ilmiah sikap etis toh digaris-bawahi sebagai referensi yang tidak baik (tidak etis), alasannya yaitu memakai cara yang tidak sah (mencuri milik orang-orang kaya). Seorang perempuan pencetus pembela masyarakat miskin pun menuai banyak penolakan alasannya yaitu sering memakai cara-cara yang keras dalam mengeGoalkankan misinya.

Pada dasarnya, siapa pun atau masyarakat mana pun mengamini pentingnya cara yang etis atau pentingnya proses dalam mencapai tujuan. Namun demikian, sungguh sayang bahwa dalam kenyataan masyarakat kita kini justru terdapat arus besar penggunaan nilai-nilai yang berlawanan. Mereka yang memegang kekuasaan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi atau tujuan kelompok.

Dalam tataran pribadi, kita masyarakat perkotaan pun semakin banyak mengunakan budaya tidak sabar (jalan pintas) dalam mencapai tujuan pribadi. Kekerasan, pemaksaan, mengambil hak orang lain, dan sebagainya, merupakan praktik sehari-hari yang gampang ditemukan.

Demikianlah, kita telah cukup jauh meninggalkan budaya yang berorientasi proses dan lebih berorientasi pada pencapaian tujuan. Meski mencapai tujuan itu penting, namun demikian bila pencapaian tujuan dilakukan tanpa penghayatan terhadap proses dan cara-cara yang etis, maka yang terjadi yaitu kekacauan sosial dan dehumanisasi. Kita tidak lagi menghargai martabat pribadi kita sebagai insan yang mempunyai hati, dan lebih bertindak sebagai mesin pencapai tujuan.

ORIENTASI PROSES
Orientasi proses (kebalikan dari orientasi hasil), merupakan budaya yang sungguh perlu kita kembangkan. Dalam konteks dunia kerja hal ini juga berlaku. Konsep-konsep organisasi modern kini semakin menempatkan insan sebagai subyek utama dalam dunia kerja. Pekerjaan merupakan sarana untuk kesejahteraan (fisik dan mental) umat manusia.

Peneliti budaya organisasi yang sangat terkenal, Hofstede, dalam beberapa tulisannya mengartikan budaya orientasi proses sebagai kondisi di mana praktik-praktik keorganisasian dirasa mencerminkan suatu kepedulian terhadap makna-makna atau cara-cara; sedangkan budaya orientasi hasil merupakan kondisi di mana praktik-praktik keorganisasian dirasa mencerminkan suatu kepedulian yang tinggi terhadap tujuan dan pencapaian tujuan.

Peneliti yang lain, Verbeke (2000), secara lebih lengkap menjelaskan bahwa dikotomi proses-hasil merefleksikan bagaimana administrasi menginginkan karyawan-karyawannya melibatkan diri dalam proses-proses bisnis (misalnya proses-proses dukungan layanan). Orientasi proses merefleksikan bagaimana ketatnya kesetiaan karyawan terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam proses-proses organisasi. Mereka tidak ingin memisahkan dirinya dari skrip-skrip kiprah dan tanggung jawab. Mereka juga bersedia mengambil alih kiprah atau tanggung jawab orang dari departemen lain bila diperlukan.

Dowdle dkk dalam suatu jurnal menggambarkan bagaimana administrasi yang berbasis proses (process-based management) akan membawa sukses organisasi. Mereka berpandangan bahwa organisasi merupakan sekumpulan proses-proses, dan ini memerlukan pengelolaan yang lebih baik dalam rangka untuk tetap bertahan dan dan berhasil baik. Manajemen berbasis proses merupakan model administrasi yang ditujukan untuk menghadapi aneka macam tantangan organisasi pada masa kini. Salah satu fokus dari administrasi berbasis proses yaitu mempromosikan budaya yang berbasis proses.

AKTUALISASI
Penghayatan terhadap proses, dan juga kesetiaan menggunaan cara-cara yang etis memang tidak menjamin tujuan dicapai dalam waktu yang singkat, namun demikian dengan kesetiaan terhadap proses dalam mencapai tujuan ini kita akan mengalami perubahan yang sangat berharga bagi kesejahteraan hidup kita dalam jangka panjang. Dalam berproses kita akan menemukan makna-makna hidup yang menjadikan kita benar-benar sebagai insan yang utuh, mengalami kepenuhan pribadi. Di dalam organisasi, individu-individu dalam organisasi yang menerapkan budaya proses, pada hasilnya akan mencapai tujuan bersama secara menggembirakan.

Seorang ibu yang telah mengalami sukses sekaligus dikenal sebagai orang yang mempunyai spiritualitas sangat tinggi, dalam sebuah seminar mengungkapkan : Yang penting bukanlah mengejar kesuksesan, melainkan menjalani hidup dengan penuh kesetiaan kepada Tuhan (yang mendorong kita untuk terus berperilaku etis, dan menempuh proses inovasi makna hidup). Dengan kesetiaan kepada Tuhan itu, maka kita akan mengalami kesuksesan. Secara singkat ibu tersebut menegaskan : Hanya orang-orang yang setialah yang hasilnya sanggup mencapai kesuksesan hidup dalam arti sebenarnya.

MASIHKAH AREMANIA BERPEGANG PADA KESETIAAN ITU ...???
SALAM SATU JIWA ...!!!